Daftar green data center di Indonesia semakin mendapat perhatian serius seiring pertumbuhan kebutuhan layanan digital, cloud computing, artificial intelligence, dan colocation berskala besar. Industri data center tidak lagi hanya berbicara soal kapasitas rack, uptime, dan konektivitas, tetapi juga soal sumber energi, efisiensi karbon, dan kepatuhan terhadap standar ESG global.

Tekanan pasar global bergerak cepat. Perusahaan multinasional dari Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan Australia kini menempatkan green data center sebagai prasyarat dasar, bukan sekadar nilai tambah. Dalam banyak tender internasional, status penggunaan energi terbarukan bahkan menjadi faktor penentu lolos atau tidaknya sebuah fasilitas data center.

Indonesia berada di posisi strategis. Kapasitas data center tumbuh agresif, kebutuhan listrik melonjak, dan peluang transisi energi terbuka lebar. Saat sebagian operator masih melihat penurunan emisi karbon sebagai kewajiban, pemain yang lebih progresif justru melihatnya sebagai keunggulan kompetitif jangka panjang.

Perkembangan Green Data Center di Indonesia

perkembangan green data center di Indonesia

Data center bukan sekadar konsumen energi. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung ekonomi digital nasional. Setiap langkah transisi energi yang dilakukan operator data center membawa dampak berlipat terhadap pencapaian target emisi nasional.

Investasi green data center semakin dipandang sebagai langkah strategis, bukan sekadar komitmen lingkungan. Di tengah meningkatnya permintaan layanan digital dari perusahaan global yang mensyaratkan kepatuhan ESG, investasi green data center membuka peluang peningkatan okupansi colocation, kontrak jangka panjang, serta valuasi aset yang lebih tinggi.

Pendekatan ini juga membantu operator mengendalikan risiko biaya energi, memperkuat posisi dalam negosiasi pendanaan, dan mendukung target nasional penurunan emisi karbon.

Saat energi terbarukan dapat diakses melalui skema kerja sama tanpa CAPEX dan tanpa gangguan operasional, investasi green data center menjadi keputusan bisnis rasional yang berdampak langsung pada daya saing jangka panjang.

Dorongan Pasar Global yang Tidak Bisa Diabaikan

Permintaan layanan digital global terus meningkat. Namun, pola belanja perusahaan global telah berubah. Banyak enterprise kini menerapkan kebijakan internal yang mewajibkan seluruh infrastruktur digital mereka berjalan di atas low carbon infrastructure.

Faktor pendorong utama meliputi:

  • Target net zero emission perusahaan global
  • Audit emisi Scope 2 dan Scope 3
  • Tekanan dari investor berbasis ESG
  • Regulasi lintas negara seperti Carbon Border Adjustment

Sebagai dampaknya, operator colocation yang mampu menyediakan opsi green data center memiliki bargaining position lebih kuat saat bernegosiasi kontrak jangka panjang.

Arah Kebijakan Nasional dan Target Energi Bersih

Pemerintah Indonesia secara terbuka mendorong transisi energi melalui peningkatan porsi energi terbarukan dalam bauran nasional. Target penurunan emisi bukan sekadar komitmen lingkungan, tetapi juga strategi menjaga daya saing ekonomi nasional.

Industri data center, sebagai konsumen listrik intensif, memegang peran krusial. Setiap konversi sebagian sumber energi ke energi terbarukan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan emisi nasional.

Transisi ini membuka peluang kolaborasi nyata antara operator data center dan penyedia energi terbarukan tanpa harus membebani neraca keuangan operator.

Pemain Colocation yang Mengarah ke Green Data Center

Operator colocation di Jabodetabek dan kawasan industri mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka. Fokus tidak lagi hanya pada harga rack atau bandwidth, tetapi juga pada sumber energi dan carbon footprint.

Ciri umum operator yang masuk kategori ini meliputi:

  • Keterbukaan terhadap skema energi terbarukan
  • Minat terhadap hybrid power PLN + renewable
  • Pendekatan ESG sebagai nilai jual layanan

Pendekatan ini terbukti meningkatkan minat klien enterprise dari negara maju yang memiliki standar keberlanjutan ketat.

Daftar Green Data Center di Indonesia (Observasi Pasar)

Indonesia green data center list

Pembahasan daftar green data center di Indonesia perlu ditempatkan secara objektif dan strategis. Tidak semua fasilitas telah tersertifikasi penuh sebagai green data center. Namun, banyak operator telah menunjukkan arah transisi yang jelas menuju penggunaan energi bersih.

Data Center Skala Hyperscale dan Enterprise

Beberapa situs data center berskala besar di Indonesia telah:

  • Mengadopsi desain efisiensi energi
  • Mengoptimalkan Power Usage Effectiveness (PUE)
  • Membuka peluang penggunaan renewable energy
  • Menyiapkan roadmap ESG jangka panjang

Langkah-langkah ini menjadi sinyal positif bagi klien global yang mencari infrastruktur digital berkelanjutan di Asia Tenggara.

Baca juga mengenai: Konsep dan Perancangan Modular Data Center Indonesia

Data Center yang Sudah Beroperasi dengan Skema Energi Terbarukan (Green)

1. EDGE DC (EDGE1 – Jakarta)

Fasilitas EDGE1 di Jakarta menjadi data center pertama di Indonesia yang menjalankan operasi dengan Renewable Energy Certificate (REC) 100%, yang berarti seluruh listriknya diasosiasikan dengan energi terbarukan melalui sertifikat yang diterbitkan PLN.

Ini menjadikannya contoh paling awal dari penggunaan energi bersih di data center urban Jakarta (meski sumber energi fisiknya tetap berasal dari grid PLN, sertifikat REC memastikan kontribusi terhadap pemenuhan bauran energi terbarukan nasional).

2. EDGE DC (EDGE2 – Sedang Dibangun)

Fasilitas EDGE2, yang masih dalam pengembangan, dirancang untuk menerapkan teknologi efisiensi tinggi dan diproyeksikan menjadi salah satu data center paling efisien di Indonesia serta terus menuju kelayakan sertifikasi green.

Data Center yang Sedang Menuju Green (Perencanaan atau Komitmen Energi Terbarukan)

3. PT DCI Indonesia – Hyperscale 3 Sky di Bintan

PT DCI Indonesia menyatakan bahwa DCI Hyperscale 3 Sky di Bintan (Kepulauan Riau) akan menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi utamanya ketika telah selesai — menempatkannya pada fase perencanaan green data center.

Grup ini juga sudah menjalankan beberapa fasilitas dengan pendekatan energi terbarukan parsial seperti penggunaan solar dan persiapan kapasitas besar (target power capacity ratusan MW).

4. Telkom Indonesia – Green Data Center Kabil (Batam)

Telkom Indonesia berupaya mengembangkan green data center di kawasan Kabil Integrated Industrial Estate (Batam) sebagai bagian dari inisiatif ekonomi hijau mereka.

Meski rincian teknis (mis. output energi terbarukan) belum dipublikasikan secara detail, mobilisasi roadmap ini menunjukkan arah ke green data center.

Kenapa Green Data Center Bukan Sekadar Kewajiban

Green Data Center Bukan Sekadar Kewajiban

Menarik Minat User Colocation dari Negara Maju

Perusahaan Eropa dan Amerika Serikat menghadapi tekanan regulasi yang sangat ketat terkait emisi karbon. Saat memilih lokasi data center, mereka tidak hanya menilai latency dan availability, tetapi juga asal energi yang digunakan.

Green data center memberikan manfaat langsung:

  • Memenuhi kebijakan internal ESG klien
  • Mengurangi risiko reputasi klien
  • Mempermudah audit keberlanjutan tahunan
  • Memperpanjang kontrak colocation jangka panjang

Operator yang mampu menjawab kebutuhan ini akan berada satu langkah di depan kompetitor regional.

Keunggulan Kompetitif Pusat Data Hijau di Industri Data Center

Transformasi energi menciptakan diferensiasi yang nyata. Saat pasar semakin padat, green data center membantu operator:

  • Menarik klien premium
  • Meningkatkan valuasi aset
  • Memperkuat posisi saat negosiasi pendanaan
  • Memperluas peluang kemitraan global

Efisiensi energi dan citra berkelanjutan berjalan beriringan sebagai strategi bisnis, bukan sekadar compliance.

Green Energy sebagai Alat Negosiasi Bisnis

Transformasi energi membuka ruang negosiasi baru:

  • Penawaran green colocation premium
  • Kerja sama jangka panjang dengan enterprise global
  • Akses pendanaan berbasis ESG
  • Kemitraan strategis lintas negara

Green data center bukan sekadar perubahan teknis, tetapi alat strategi bisnis yang konkret.

Lantas, bagaimana provider datacenter di Indonesia dapat terapkan strategi ESG secara efisien dan efektif?

Konversi Energi Data Center ke Green Energy Tanpa CAPEX

strategi penyedia pusat data di indonesia

Skema Kerja Sama Energi Terbarukan untuk Data Center ≥ 1 MWp

Banyak operator mengira transisi energi membutuhkan belanja modal besar. Faktanya, skema kerja sama energi terbarukan modern memungkinkan konversi sebagian sumber listrik tanpa CAPEX.

Karakteristik skema ini meliputi:

  • Minimum beban listrik sekitar 1 MWp (1.000 kWp)
  • Investasi ditanggung penyedia energi terbarukan
  • Operasional data center tetap berjalan normal
  • Tarif listrik kompetitif dan stabil

Operator data center tetap fokus pada core business tanpa harus mengelola aset pembangkit.

Dampak Langsung terhadap TCO Data Center

Transformasi energi yang tepat justru membantu menekan risiko biaya jangka panjang. Total Cost of Ownership menjadi lebih terprediksi karena:

  • Ketergantungan pada fluktuasi energi fosil berkurang
  • Struktur biaya energi lebih stabil
  • Tidak ada beban maintenance pembangkit
  • Risiko teknis dialihkan ke mitra energi

Pendekatan ini selaras dengan kebutuhan operator data center modern yang mengutamakan efisiensi dan skalabilitas.

Strategi Konversi Energi Data Center di Indonesia

Strategi Konversi Energi Data Center di Indonesia

Sebagai industri yang tumbuh pesat, ekosistem data center Indonesia tidak bergerak sendiri. Peran asosiasi menjadi penting untuk menyatukan standar, kepentingan industri, serta arah pengembangan jangka panjang. Di Indonesia, peran tersebut dijalankan oleh IDPRO sebagai asosiasi penyelenggara pusat data nasional.

IDPRO menaungi berbagai operator data center, colocation provider yang cenderung meningkat kapasitasnya, hingga pelaku infrastruktur pendukung yang mengelola kapasitas listrik dalam skala sangat besar.

Secara kolektif, anggota IDPRO merepresentasikan porsi signifikan dari total kapasitas data center nasional, terutama di kawasan Jabodetabek dan koridor industri utama.

Estimasi Total Kapasitas Listrik Data Center Anggota IDPRO

Berdasarkan observasi industri, publikasi terbuka, serta data kapasitas kampus data center yang telah beroperasi dan sedang dikembangkan, total beban listrik data center yang tergabung dalam ekosistem IDPRO diperkirakan telah mencapai ratusan megawatt (MW) dan terus bertumbuh setiap tahun.

Secara agregat, kapasitas data center yang berada di bawah ekosistem IDPRO diperkirakan berada pada kisaran 300–500 MW untuk beban terpasang dan terkontrak, mencakup hyperscale, enterprise data center, serta fasilitas colocation berskala besar.

Angka ini tidak dimaksudkan sebagai data resmi, melainkan sebagai indikasi skala industri yang menunjukkan besarnya potensi dampak transisi energi apabila sebagian kapasitas tersebut beralih ke energi baru terbarukan.

Adopsi Energi Baru Terbarukan di Lingkungan Anggota IDPRO

Transformasi menuju green data center di Indonesia telah dimulai, meskipun tingkat adopsinya belum merata. Sejumlah anggota IDPRO telah:

  • Menggunakan energi terbarukan sebagai sebagian sumber daya
  • Menjalankan skema hybrid PLN + renewable
  • Menyusun roadmap ESG dan net zero internal
  • Membuka diskusi aktif terkait green power procurement

Namun, secara keseluruhan, porsi data center yang telah menggunakan energi baru terbarukan bebas emisi secara signifikan masih berada pada tahap awal.

Hingga saat ini, adopsi energi baru terbarukan di lingkungan data center anggota IDPRO masih berada pada tahap transisi awal.

Sebagian fasilitas telah memanfaatkan renewable energy dalam porsi terbatas, sementara mayoritas masih berada dalam fase perencanaan dan penjajakan model kerja sama energi hijau.

Kondisi ini justru menunjukkan ruang pertumbuhan yang sangat besar, bukan keterlambatan.

Kenapa IDPRO Menjadi Kunci Akselerasi Green Data Center?

Sebagai asosiasi, IDPRO memiliki posisi strategis untuk:

  • Menjadi jembatan antara operator data center dan penyedia energi terbarukan
  • Mendorong standarisasi green data center Indonesia
  • Memperkuat posisi Indonesia di mata hyperscaler global
  • Mendukung target nasional penurunan emisi karbon

Ketika asosiasi dan pelaku industri bergerak searah, transformasi energi tidak lagi bersifat individual, tetapi menjadi gerakan kolektif industri data center nasional.

Potensi Konversi Energi Skala Besar di Lingkungan IDPRO

Apabila hanya 20–30% dari total kapasitas data center anggota IDPRO mengonversi sebagian sumber energinya ke energi baru terbarukan, dampaknya akan sangat signifikan:

Konversi ini sangat realistis untuk fasilitas data center dengan beban ≥ 1 MWp, terutama yang memiliki rooftop luas atau akses lahan memadai.

Melalui kolaborasi antara operator data center, asosiasi, dan penyedia energi terbarukan, model transisi berikut menjadi semakin relevan:

  • Tanpa CAPEX bagi operator data center
  • Tanpa gangguan operasional
  • Tanpa peningkatan TCO
  • Berbasis kerja sama jangka panjang

Pendekatan ini memungkinkan anggota IDPRO fokus pada pertumbuhan kapasitas digital, sementara aspek energi ditangani oleh mitra yang memiliki keahlian dan pembiayaan khusus.

Saatnya Data Center di Indonesia Menggunakan Energi Hijau

Tidak semua data center cocok langsung beralih ke energi terbarukan skala besar. Namun, beberapa kriteria menunjukkan kesiapan tinggi.

Kriteria Data Center Ideal untuk PLTS Skala Besar

Fasilitas yang paling potensial umumnya memiliki:

  • Beban listrik tinggi di siang hari
  • Operasional 24/7
  • Rooftop atau lahan memadai
  • Fokus pada enterprise dan colocation

Kapasitas minimum sekitar 1 MWp menjadi titik awal ideal untuk efisiensi ekonomi dan teknis.

Jadi, tidak perlu menunda bertransformasi energi, karena pasar global sudah menjadikan green data center sebagai standar. Kompetisi industri data center tidak lagi hanya soal lokasi dan kapasitas, tetapi juga soal keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan.

Tidak perlu menunggu kesiapan CAPEX. Tidak perlu menaikkan TCO. Kini tersedia penyedia energi terbarukan yang mampu berikan solusi menyeluruh untuk data center di seluruh Indonesia.

Operator data center tetap membayar listrik seperti biasa, hanya sumber energinya yang berubah menjadi lebih bersih dan berkelanjutan. Transformasi energi bukan agenda masa depan. Agenda tersebut sudah berjalan hari ini.

Silahkan isi form di bawah untuk informasi pengadaan listrik solar panel tanpa CAPEX selengkapnya.

Pin It on Pinterest

Share This