0 888 1 6262 52
Efek Bumerang Bisnis Colocation Server v.s Layanan Cloud

Efek Bumerang Bisnis Colocation Server v.s Layanan Cloud

Perusahaan teknologi yang tergolong perusahaan besar menemukan bahwa komputasi awan tidak efektif biayanya seperti yang diharapkan. Dari perusahaan tersebut sebagian setidaknya telah memindahkan satu aplikasi kembali data center fisik (colocation server). Fenomena kembalinya pelanggan colocation server yang sempat berpindah ke cloud ini seperti efek bumerang.

Para penyedia layanan cloud di anjurkan unutuk bersiap diri menghadapi fenomena efek bumerang pada pasar colocation server. Hal ini karena  beberapa perusahaan besar yang sempat beralih ke cloud kini kembali memakai on-premise data center (data center fisik). Inilah yang dimaksud dari fenomena efek bumerang tersebut.

Fenomena Efek Bumerang pada Bisnis Colocation Server

Hampir dua dari tiga CIO (62%) dalam survei Pacific Crest Securities terbaru di tahun 2017 mengenai Cloud dan Infrastruktur Prioritas, banyak pengguna membawa kembali beban kerja mereka ke server fisik. Pada kompetisi pasar antara colocation server vs layanan cloud, banyak perusahaan besar menyarankan bahwa layanan cloud mungkin bukan jawaban untuk segalanya.

Responden survei kebanyakan berasal dari industri teknologi, jasa keuangan, manufaktur, sektor publik dan bisnis ritel dan 2/3 memiliki anggaran TI lebih dari US$ 50 juta atau sekitar Rp. 765 Milyar per tahun .

Banyak perusahaan terkejut ketika menerima tagihan bulanan mereka dari penyedia cloud publik. Tagihan itu menunjukkan berapa banyak mereka benar-benar menghabiskan biaya, kata Scott Lowe, seorang analis teknologi independen pada sebuah acara Data Center di USA.

Bursa Efek Nasdaq Tinggalkan Cloud dan Kembali ke On Premise Data Center

Nasdaq Inc di New York, misalnya, mereka mengakui bahwa komputasi awan sempat hits beberapa tahun yang lalu tapi mereka menemukan bahwa, dalam beberapa kasus, biaya layanan cloud lebih mahal ketimbang on-premise (infrastruktur data center fisik), katanya.

 

Bursa Amerika telah mulai memindahkan beberapa beban kerja kembali ke infrastruktur data center mereka. Perusahaan akan terus menggunakan kombinasi cloud publik dan private untuk menjalankan beban kerja yang diberikan berdasarkan biaya dan tuntutan aplikasi.

Efek bumerang biasanya terjadi pada perusahaan teknologi dan perusahaan yang lebih besar, menurut survei Pacific Crest.

Dinamika Bisnis Colocation Server di Era Cloud Computing

Cloud publik memang menarik bagi para perusahaan startup. Seperti perangkat keras, lisensi dan Microsoft Certified Engineer, hanya ber biaya sekitar puluhan ribu dolar pada hari pertama. Tetapi sebagian besar mereka memanfaatkan komputasi awan hanya untuk awal berdirinya perusahaan. Ketika perusahaan startup tersebut telah matang, maka mereka berpindah ke on-premise kata Hamilton, veteran teknologi 20-tahunan.

Salah satu atraksi awal komputasi awan adalah bahwa hal itu akan mengurangi biaya modal yang besar dan memungkinkan komputasi untuk dibeli sebagai potongan yang lebih kecil dari biaya operasional. Tapi akan selalu ada situasi di mana komputasi awan tidak akan menghemat uang dalam jangka panjang.

Konsep Hybrid Akan Mewarnai Bisnis Cloud dan Colocation Server

Kombinasi infrastruktur cloud dan on-premise akan membawa keseimbangan, dimana semakin banyak inovasi terbaru dalam segala hal. Seperti pada solusi pemulihan bencana (active-passive) yang semula menerapkan sistem ‘All You Can Eat” akan menjadi solusi disaster recovery ‘ala carte’. Disaster Recovery as a Service atau disingkat dengan DRaaS termasuk solusi Hybrid pada infrastruktur teknologi informasi. Inovasi in berhasil mengawinkan infrastruktur data center fisik yang minimal memiliki sertifikasi Tier III dari The Uptime Institute dan ISO27001 untuk keamanan dengan sebuah teknologi komputasi awan sebagai agen fail-over dan scaling.

Di tahun 2017 ini, Gartner, PwC, dan Frost & Sullivan memprediksi bahwa anggaran belanja TI akan lebih banyak pada teknologi ketimbang cloud ataupun perangkat fisik.

Layanan Perbankan Fintech Target Beberapa Macam Serangan

Layanan Perbankan Fintech Target Beberapa Macam Serangan

Bank telah lama menawarkan layanan seperti check-cashing melalui telepon, penagihan paperless, dan transfer uang cepat. Beberapa bank bahkan telah menambah produk mereka untuk memasukkan hal-hal seperti sistem manajemen anggaran atau bantuan investasi. Semua fasilitas ini, sampai ke kemudahan dasar sebuah portal rekening online, merupakan bagian dari revolusi teknologi keuangan, biasanya disebut sebagai Layanan Perbankan FinTech.

Generasi milenium yang bergantung pada internet turut mendorong perkembangan teknologi. Banyak dari individu-individu ini juga bertanggung jawab untuk melakukan kemajuan teknologi yang kita dengar setiap hari. Dengan kata lain, layanan perbankan fintech dibuat oleh, serta dikonsumsi oleh generasi di wilayah yang paling padat penduduknya di negara ini. Namun apakah layanan perbankan fintech tersebut aman ?

Beberapa Serangan Cyber Pada Layanan Perbankan Fintech

Sebagai bank atau lembaga keuangan, penting untuk menyadari bahwa layanan perbankan fintech adalah tindakan balancing. Di satu sisi, jika Anda tidak mengadopsi teknologi baru, terutama pada saat mereka sudah menjadi kebutuhan (seperti portal online), citra merek Anda menderita. Di sisi lain, anda harus mengelola bahaya yang datang, namun layanan fintec ini akan lebih mudah diakses konsumen.

Layanan perbankan fintech dengan segudang kecanggihan dan kemudahan bisa menjadi mahal biayanya. Berikut adalah beberapa macam serangan cyber yang di tujukan ke layanan perbankan fintech.

  • Serangan Penolakan Terdistribusi (DDos)
  • Botnets
  • Malware
  • Mobile Malware
  • Spam
  • Hacking
  • Phishing dan Smishing
  • Pencurian dan Penyalahgunaan Identitas
  • Kampanye Negatif

Serangan DDoS jika di terapkan pada pada layanan internet banking dapat menghentikan layanan web dan aplikasi fintech selama beberapa hari. Walaupun tidak ada dana nasabah yang hilang, akan tetapi downtime selama puluhan jam tentunya dapat memberikan buruk baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan usaha.

Kroll, perusahaan manajemen risiko terkemuka, menemukan bahwa hampir 80% dari bank menjadi sasaran malware. Serangan tersebut dilakukan baik melalui terminal permanen dan melalui aplikasi mobile mereka. Sekitar sepuluh persen menjadi sasaran langsung oleh hacker, dengan persentase yang sama dari bank menghadapi serangan DDoS yang bertujuan melumpuhkan seluruh sistem mereka.

Pesan ini sangat jelas – sebagai bank, kekhawatiran Anda berubah. Alih-alih memastikan Anda memiliki kualitas tertinggi yang aman untuk menyimpan uang, mungkin bijaksana untuk fokus pada memiliki sistem keamanan online paling efektif.

JP Morgan, Wells Fargo, CitiBank dan Bank of America telah menghabiskan lebih dari USD 1,5 milyar atau sekitar Rp. 20 Triliun untuk cybersecurity di tahun 2015. Terlebih lagi, pada bulan Agustus 2016 yang lalu, delapan bank terbesar negara itu bekerja sama untuk menangkal serangan hacker dan spammer, dan melindungi account pelanggan mereka.

Brand Layanan Perbankan Fintech Juga Turut Diserang!

Brand perusahaan anda akan terpuruk, konsumen akan berpindah ke layanan perbankan lainnya. Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami jenis-jenis serangan cyber yang di tujukan pada layanan perbankan fintech. Sehingga, strategi dan tindakan pengamanan dapat di terapkan untuk menjaga kelancaran operasional sehari-hari. Termasuk pada sistem pemulihan bencana untuk layanan fintech harus dikaji ulang untuk dapat memenuhi kebutuhan saat ini. Hal tersebut termasuk sebagai upaya untuk mengadopsi perubahan dengan cepat.

Kampanye negatif juga dilancarkan baik secara berkelompok, maupun perorangan. Hal ini dapat mempengaruhi kredibilitas merek dagang anda. Penyedia jasa layanan perbankan fintech harus aktif memantau aktivitas di sosial media. Mereka harus menempatkan dukung pelanggan pada media sosial mainstream seperti Twitter, Facebook, LinkedIn dan Google Plus. Hal ini dikarenakan, dari sesuatu yang viral maka jika ada kejadian tertentu dapat menjadi konversi yang tinggi secara offline. Tentunya, kampanye negatif hanya akan menghasilkan konversi yang negatif ke bisnis anda.

Hal terbaik yang dilakukan oleh provider layanan fintech untuk melindungi aset ketika menginstal teknologi baru, dari perangkat lunak baru yang kompleks hingga penggunaan sidik jari, adalah untuk memastikan bahwa tidak hanya karyawan mereka terlatih dan memungkinkan untuk menemukan dan melaporkan pelanggaran, tapi pelanggan mereka juga dilatih untuk berinteraksi secara benar dengan fitur baru. Banyak pelanggaran data utama berasal dari karyawan bank yang memutuskan untuk login ke komputer pribadi mereka, kehilangan ponsel mereka, atau menjauh dari stasiun mereka tanpa mengunci komputer mereka. Banyak lagi datang dari pelanggan yang kurang hati-hati terhadap penyimpanan password dan pilihan keamanan.

Jakartaurbanhosting.com selain menyediakan hosting VPS dan jasa pembuatan website, juga melayani jasa online branding yang dapat diandalkan untuk menjaga reputasi bisnis anda pada dunia online. Tidak hanya di media sosial, kami turut memantau dan melakukan aksi proaktif pada hasil pencarian di google. Untuk itu, perusahaan penyedia jasa layanan perbankan fintech dapat menghubungi kami melalui kontak form dibawah ini.

12 + 10 =

Mengapa Layanan Cloud Computing Jadi Lebih Sulit dan Mahal?

Mengapa Layanan Cloud Computing Jadi Lebih Sulit dan Mahal?

Menurut laporan Cloud Survey yang diterbitkan minggu ini oleh perusahaan konsultan KPMG International, sejumlah perusahaan mengatakan tantangan dalam menggunakan layanan cloud computing menjadi lebih sulit dan lebih mahal daripada yang mereka pikir pada awalnya.

Studi ini menunjukkan bahwa satu setengah dari 650 responden mengatakan organisasi mereka sudah memiliki beberapa platform berbasis cloud yang berjalan. Ini merupakan survei lanjutan dari Survei terakhir di mana sistem berbasis cloud beroperasional pada sebagian kecil sistem di perusahaan yang di survei. Perusahaan secara jelas bergerak melintasi tahap awal pelaksanaan proyek pada komputasi awan.

Perubahan Persepsi Terhadap Layanan Cloud Computing

Alasan perusahaan yang berpartisipasi dalam studi sebelumnya, mereka pindah ke layanan cloud karena dapat memberikan kemudahan dalam memasuki pasar baru, serta mengemudi proses transformasi digital. Nilai kelincahan layanan cloud computing tampaknya menjadi pendorong utama dalam perubahan persepsi ini. Alasan kelincahan tersebut melebihi dari efisiensi operasional. Ini merupakan sedikit perubahan terhadap alasan awal pindah ke layanan cloud. Sebelumnya mereka mengharapkan pengurangan biaya operasional dan menghindari biaya modal. Selanjutnya, mereka menemui kesulitan dan biaya yang dikeluarkan menjadi lebih besar.

Yang menarik dari studi ini adalah bahwa sepertiga dari mereka yang di survei mengatakan, biaya untuk pindah ke platform berbasis cloud ternyata lebih tinggi dari yang diharapkan. Inti kelebihan biaya adalah biaya yang lebih tinggi dalam mengubah bisnis yang ada dan mengubah arsitektur TI untuk mengakomodasi penggunaan sumber daya berbasis cloud. Mereka yang memanfaatkan platform berbasis cloud pada awalnya tidak melihat masalah tersebut.

Masalah umum yang mereka temui termasuk kegagalan dalam mengatasi perubahan yang diperlukan dalam:

  • Perancangan ulang proses bisnis
  • Kemampuan manajemen IT
  • Integrasi sistem
  • Manajemen infrastruktur
  • Konfigurasi IT

Tentu saja, banyak yang di survei memiliki kesalahpahaman arti mengenai pengadopsian layanan berbasis cloud. Mereka mengatakan “sensasi dan kebingungan” di sekitar komputasi awan sebagai penyebab perbedaan antara harapan yang ditetapkan, dan realitas yang dihasilkan.

Menilai Ulang Harapan Dalam Memakai Layanan Cloud Computing

Menilai Ulang Harapan Dalam Memakai Layanan Cloud ComputingMasalah dengan layanan cloud computing adalah bahwa, dalam rangka untuk menjadi sukses dengan teknologi ini, Anda perlu mendorong perubahan sistemik dalam arsitektur inti di perusahaan inti Anda. Ini adalah bagian dari upaya yang membutuhkan lebih banyak langkah dari sebelum mereka menginjakkan kaki pertama kali ke dalam sistem cloud computing. Jadi sekarang, perusahaan yang menggunakan layanan cloud computing banyak mengalami kenaikan dalam biaya, risiko, dan upaya, jauh lebih tinggi dari apa yang mereka harapkan.

Gembar-gembor yang menggaung (Hype) menyebabkan kesalahan informasi sekitar layanan komputasi awan. Dengan mendengarkan hype, orang akan berpikir bahwa dengan berpindah ke layanan cloud public atau private akan menyelesaikan semua masalah IT mereka.

Kenyataannya adalah bahwa kebanyakan perusahaan jauh dari kesiapan dalam menggunakan sistem cloud. Mereka masih memiliki pendekatan keamanan yang tidak efisien, data yang tersebar di mana-mana, proses yang dirancang buruk, serta penuaan infrastruktur. Hal ini juga dialami oleh Dropbox, yang berpindah dari layanan cloud AWS ke colocation data center pada akhirnya.

Sebagai perusahaan yang menerapkan platform berbasis cloud, mereka menemukan bahwa mereka hanya memperluas aset IT mereka ke sumber layanan cloud. Oleh karena itu, dalam banyak kasus, aset IT harus mengubah seputar penggunaan cloud computing agar semua sistem IT dapat berfungsi secara efektif.

Misalnya, berpikir tentang kemampuan untuk melakukan sinkronisasi data yang berada di colocation data center dengan data yang berada di cloud. Atau, kemampuan untuk mengelola identitas seluruh sumber daya lokal dengan berbasis cloud untuk mendukung model distribusi keamanan yang diperlukan dengan menggunakan layanan cloud computing. Berapa biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas ini? Berapakah nilai dalam kaitannya dengan biaya?

Pertimbangan Sebelum Mengambil Keputusan Akan Berpindah ke Cloud

Solusi untuk dilema ini mungkin agak mudah. Kita perlu lebih realistis tentang apa biaya layanan cloud computing, dan bagaimana komputasi awan akan memberikan nilai ke bisnis anda.

Ada hal-hal tertentu yang harus dipertimbangkan sebelum pindah ke platform berbasis cloud, termasuk PaaS, IaaS, dan SaaS, termasuk, namun tidak terbatas pada:

  • Keadaan data saat ini

    Jika data perusahaan Anda berantakan, maka relokasi data ke sumber daya berbasis cloud akan memperburuk masalah. Sebelum membuat keputusan untuk berpindah ke layanan cloud publik, swasta, dan hybrid, Anda harus memperbaiki masalah dalam data perusahaan.

  • Keadaan proses bisnis saat ini

    Seperti data, jika proses bisnis belum terstruktur secara sistematis hal ini akan membutuhkan perancangan ulang prose bisnis sebelum berpindah ke layanan cloud computing. Untuk efisiensi dan mempersingkat waktu, Perusahaan dapat memfokuskan membangun ulang proses yang berkaitan dengan cloud. Pertimbangkan konsep proses partisi, atau proses apa yang akan berada di colocation data center atau di layanan cloud, serta bagaimana mereka akan dihubungkan.

  • Keadaan jaringan saat ini

    Masalah bandwidth merupakan isu terbesar dalam penyebaran pada lingkungan cloud. Penyebaran sangat bergantung pada koneksi internet dan perangkat keras jaringan internal. Jika infrastruktur Anda menunjukkan tanda-tanda sudah usang, maka penyebaran tidak akan bekerja dengan baik dengan lingkungan cloud publik yang akan mengkonsumsi dan menghasilkan data dalam jumlah besar setiap hari.

  • Keadaan keamanan saat ini keamanan

    Cloud computing biasanya membutuhkan cara pendekatan keamanan yang berbeda. Misalnya, seperti penggunaan identitas dan pendekatan yang lebih canggih untuk enkripsi. Keamanan adalah sebuah konsep holistik (menyeluruh), sehingga perubahan harus terjadi untuk seluruh sistem inti perusahaan saat setelah berpindah ke layanan cloud.

Semua ini akan melibatkan biaya uang dan waktu, oleh karena itu perusahaan harus dapat mengantisipasi hal tersebut sebelum memutuskan akan berpindah ke cloud atau tidak. Penggunaan teknologi komputasi awan seharusnya merupakan hal taktis dan strategis agar dapat menjadi efektif.

Oleh karena itu, berpindah ke layanan cloud computing dengan dasar pemahaman “lebih murah” dapat menyebabkan perusahaan “membayar lebih mahal” untuk kebutuhan IT mereka. Kita hanya perlu menjadi lebih sadar akan perubahan yang perlu terjadi di sekitar penggunaan sumber daya berbasis cloud. Pertimbangam biaya telah terbukti tidak efektif dalam mengambil keputusan untuk berpindah ke layanan cloud computing. Masalah teknis akan menjadi jauh lebih besar jika anda belum benar-benar memperhitungkan secara matang keputusan migrasi cloud tersebut.

Trend Transformasi Digital Di Tahun 2017 di Indonesia

Trend Transformasi Digital Di Tahun 2017 di Indonesia

Transformasi digital membentuk ulang setiap aspek bisnis. Teknologi digital terus berkembang, transformasi digital yang sukses akan membutuhkan kerjasama hati-hati, perencanaan yang bijaksana, dan diberlakukan secara menyeluruh setiap departemen. Di tahun 2016 ini trend transformasi digital sudah dapat terlihat arahnya.

Trend Transformasi Digital di Tahun 2017

Selama beberapa tahun terakhir, kita telah melihat pergeseran dalam cara peran kepemimpinan tradisional beroperasi. Seperti memecah silo dan lingkup berbagai peran melebar dan perubahan. Transformasi digital telah berubah dan lebih memiliki kecenderungan sebagai komponen utama dari strategi bisnis modern.

Berikut ini adalah beberapa tren transformasi digital yang kita harapkan di tahun 2017 dapat terjadi:

  1. Kemampuan Beradaptasi

    trend transformasi digital tahun 2017Kemampuan beradaptasi lebih menjadi faktor penting keberhasilan dari sebelumnya. Perubahan yang akan terjadi tersebut perlu kita pikirkan, apakah dapat kita kejar atau tidak. Untuk memahami ini, para CIO di perusahaan perlu melihat bagaimana peran komputasi awan pada tahun 2016 telah berkembang. Perusahaan modern lebih berhasil ketika mereka beradaptasi dengan pergeseran industri dan pasar. Menggabungkan teknologi baru ke dalam budaya perusahaan dan operasi rutin, merupakan faktor keberhasilan perusahaan saat ini. Namun, trend transformasi digital tidak hanya tentang teknologi, ini tentang menyatukan kekuatan teknologi dengan budaya yang mencakup perubahan yang dapat berpengaruh positif bagi organisasi.

  2. Lebih Berfokus Pada Pelanggan

    Pengalaman pelanggan (termasuk karyawan/pengguna) adalah tujuan akhir dari setiap transformasi digital. Pelanggan di era digital lebih berhati-hati dari sebelumnya. Mereka akan melirik merek yang tidak sejajar dengan nilai-nilai dan kebutuhan mereka. Sebuah tantangan menarik dari pengalaman pengguna adalah cara yang fantastis untuk menjaga pelanggan melalui keterlibatan. Ini adalah proses yang komprehensif. Pelanggan dapat berinteraksi dengan bisnis Anda di mana saja dan kapan saja. Peningkatan pengalaman pelanggan harus konsisten dan positif. Misalnya, pengusaha dapat menggunakan analisis untuk menemukan dari mana pelanggan berasal (apakah itu sebuah platform media sosial, blog, atau di tempat lain). Transformasi digital dapat merampingkan interaksi di saluran pemasaran yang memiliki lalu lintas tinggi. Dalam setiap hal, perusahaan modern semakin memilki kecenderungan untuk memimpin transformasi secara terus-menerus (baca: Transformasi Digital Berkelanjutan). Trend transformasi digital ini termasuk bagaimana kita menghapus gesekan dan meningkatkan pengalaman bagi setiap pelanggan di mana pun mereka berada.

  3. Inovasi Semakin Cepat

    Inovasi Proaktif adalah salah satu cara terbaik untuk tetap memiliki keunggulan kompetitif di pasar yang berkembang dinamis. Teknologi baru perlu dinilai, diuji, dianalisis, dan di sebar lebih cepat dari sebelumnya. Bisnis tidak bisa lagi membuang-buang waktu dan sumber daya dengan mengadakan alat-alat baru yang tidak menawarkan nilai riil. Ini berarti kecepatan dalam menilai suatu fitur baru dapat membawa kesuksesan lebih cepat. Beberapa proyek akan langsung bekerja, yang lain akan memiliki kurva belajar yang signifikan. Perusahaan akan lebih cepat merealisasikan ide dan lebih berpeluang untuk mengubah dan bahkan mendobrak pasar dengan model bisnis internal. Kemampuan beradaptasi semakin memainkan peran utama dalam kemajuan bisnis secara eksponen. Jika sebuah perusahaan memiliki budaya adaptif di mana teknologi baru dapat dan dengan mudah diintegrasikan, maka perusahaan lebih berpeluang dalam kesuksesan jangka panjang.

  4. Merangkul Outsourcing Bidang Teknologi Informasi

    Profesional muda lebih memilih fleksibilitas dalam hal kompensasi. Teknologi mobile dan proliferasi bandwidth memungkinkan perusahaan untuk menghubungkan dengan (dan mempertahankan) tenaga ahli dari seluruh dunia. Konsultan yang menyediakan dukungan teknologi informasi (Managed Service Provider) semakin dilirik oleh perusahaan besar di seluruh Dunia. Perusahaan mendapatkan keuntungan dengan memiliki kemampuan untuk mempekerjakan karyawan yang paling berbakat yang tersedia di setiap zona waktu. Trend transformasi digital terhadap bisnis terus mendukung kemampuan telecommute. Kita dapat berharap akan melihat perkembangan baru yang menarik dan peluang untuk operasional jarak jauh (offshore managed services). Baca juga mengenai: IT outsourcing meningkatkan efisiensi perusahaan.

  5. Munculnya Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR)

    Keberhasilan booming aplikasi Pokémon GO AR adalah tanda awal untuk setiap bisnis yang belum meng-evaluasi potensi AR dan VR. Teknologi ini dulunya terbatas pada ranah gaming, tapi sekarang lebih mudah untuk diterapkan dari sebelumnya. Pergeseran utama menuju VR dan AR memberikan cara baru dalam menawarkan keunikan interaksi pelanggan yang lebih mengesankan. Popularitas AR dan VR juga membuka gerbang untuk gamification di tempat kerja. Beberapa analis memprediksi bahwa dengan gamification tahun depan akan merubah strategi bisnis inti di banyak perusahaan modern. Para analis sedang melakukan penelitian ekstensif terhadap hal ini.  Mereka juga mengantisipasi akan adanya roadmap yang kuat untuk menggabungkan game ke tempat kerja terhadap penggunaan VR dan AR untuk meningkatkan keterlibatan karyawan, retensi dan pengalaman pelanggan.

  6. Program aplikasi antarmuka (API)

    Transformasi Digital secara meleka akan mendorong bayangan IT dan kebutuhan untuk lebih lincah dan cepat. Alat-alat baru teknologi membutuhkan lebih dari satu jalan untuk kelangsungan hidup, jika tidak nilai mereka akan cepat turun. API adalah senjata rahasia untuk merangkul transformasi digital dengan benar. eBay dan PayPal adalah dua perusahaan yang telah mengandalkan teknologi API secara signifikan. API memungkinkan mereka mengelola volume transaksi yang sangat tinggi. Perusahaan berusaha untuk dapat lebih saling mengikat, API akan memainkan peran besar dalam maksud tersebut. Ini bukan berarti menggabungkan platform, API akan membuka pintu untuk beberapa platform agar dapat berjalan bersama-sama dalam suatu ekosistem yang cepat dan fleksibel. Perangkat lunak dan teknologi tertentu perusahaan mungkin menolak perubahan ini karena ini berarti mereka harus berbagi pangsa pasar. Tetapi untuk perusahaan yang ingin menyebarkan teknologi untuk menciptakan pengalaman pengguna yang terbaik, sering diperlukan kerjsama dengan perusahaan lain. Contoh: Traveloka dapat bekerjasama dengan Go-Jek atau GrabBike dalam aplikasi mereka melalui API. Ini akan meningkatkan pengalaman pelanggan pada tiap-tiap aplikasi tersebut. Pelanggan Go-Jek dan GrabBike dapat memesan hotel dan tiket pesawat, pelanggan Traveloka dapat memesan makanan dan minuman di hotel tempat mereka menginap.

  7. Big Data dan Analisa Intelejen Bisnis

    Pentingnya big data dalam dunia bisnis tidak dapat dilebih-lebihkan. Kita tahu bahwa ada sejumlah data berharga di dunia, tetapi hanya sedikit perusahaan yang menggunakannya untuk efek maksimum. Analitik mendorong bisnis dengan menunjukkan bagaimana pelanggan Anda berpikir, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana pasar memandang merek Anda. Dalam trend transformasi digital saat ini, hampir semuanya dapat diukur. Di tahun mendatang ini akan menjadi landasan bagaimana bisnis beroperasi. Setiap keputusan penting dapat dan harus didukung oleh aplikasi data dan analisis.

  8. Transformasi Digital Didorong oleh Internet of Things (IoT)

    Berbicara tentang bagaimana big data dapat berharga untuk pemasar, IoT menawarkan wawasan yang sangat banyak terhadap prilaku pasar. Ini juga akan mengubah cara kehidupan sehari-hari. IoT dapat mendorong perubahan operasional dengan membantu sebuah kota menjadi lebih efisien (SmartCity) dan perusahaan lebih ramping. Bisnis dan pelanggan akan terus mendapatkan keuntungan dari IoT. Dengan perkiraan 50 miliar sensor IoT pada tahun 2020 maka IoT akan sangat berpengaruh terhadap trend transformasi digital dan akan juga membentuk banyak model bisnis baru.

  9. Mesin Pintar dan Kecerdasan Buatan (AI)

    Evolusi teknologi digital terus berkembang. Mesin akan dapat belajar sendiri dan beradaptasi dengan lingkungan mereka. AI telah lama dianggap sebagai ranah fiksi ilmiah, tetapi teknologi semakin membaik dan AI menjadi kenyataan. Sementara mesin pembelajaran lanjutan dapat menggantikan pekerjaan dengan keterampilan rendah, AI akan dapat bekerja sama dengan profesional manusia untuk memecahkan masalah intens yang kompleks. AI akan menjadi salah satu kekuatan yang paling berpengaruh di dunia IT.

  10. Menghancurkan Silo

    Peran CIO telah berubah secara dramatis selama dekade terakhir. Dengan munculnya peran baru seperti Chief Digital Officer (CDO) dan Chief Customer Officer (CCO), kita melihat pentingnya transformasi digital saat ini. Pentingnya hal itu terjadi bukan hanya di teknologi dari perusahaan, tetapi di seluruh organisasi. Solusi yang lebih multidimensional dan teknologi tidak bisa digunakan sebagai penopang. Fokus pada pemecahan silo, akan memberikan inovasi yang menyediakan lebih banyak ruang untuk berkembang dan kolaborasi menjadi lebih mudah. Ini dapat terlihat pada penerapan pola pikir DevOps dan kemudian berkembang lagi menjadi DevOps 2.0 atau BizDevOps. Dalam hal ini perusahaan startup telah melakukan terlebih dahulu, karena lebih mudah dilakukan dari awal.

konsultan transformasi digitalTrend teknologi terbaru akan menjadi inti dari upaya transformasi digital pada tahun 2017. Tidak ada lagi pertanyaan bahwa transformasi digital bukan sebuah pilihan, akan tetapi merupakan sebuah kebutuhan untuk membangun sebuah perusahaan yang dapat memanfaatkan perubahan teknologi dan budaya secara cepat. Ini merupakan inti untuk membangun bisnis yang lebih kuat, tidak hanya untuk bertahan dalam bisnis. Kemampuan beradaptasi harus dirancang untuk perkembangan jangka panjang di mana perubahan adalah satu-satunya yang konstan.

Tantangan Operasional Jaringan Komputer di Perusahaan UKM

Tantangan Operasional Jaringan Komputer di Perusahaan UKM

Manajer jaringan komputer di perusahaan-perusahaan kecil dan menengah menghadapi banyak tantangan yang sama seperti yang dihadapi oleh rekan-rekan mereka di perusahaan besar. Misalnya, perusahaan-perusahaan kecil sering beroperasi teknologi kelas perusahaan besar dengan sumber daya yang lebih sedikit dan anggaran yang lebih kecil. Oleh karena itu, orang-orang ini perlu ketersediaan jaringan dan pemantauan kinerja sistem yang disesuaikan dengan persyaratan teknis dan kebutuhan bisnis dari usaha kecil dan menengah.

Otomatisasi dan orkestrasi dua istilah kita mendengar lebih sering, terutama ketika membahas virtualisasi dan cloud computing. Virtualisasi dan teknologi komputasi cloud terus berkembang. Memiliki otomatisasi dan orkestrasi merupakan solusi yang rumit yang dapat disajikan dari teknologi ini. Demikian peningkatan jumlah produk dan jasa yang dibangun di sekitar otomatisasi dan orkestrasi IT di data center.

Sebuah firma telah melakukan penelitian dan mengidentifikasi tantangan utama yang dihadapi perusahaan-perusahaan kecil terhadap operasional jaringan komputer. Mereka telah mengidentifikasi beberapa alat manajemen yang dapat memberikan nilai yang paling bagus untuk perusahaan UKM.

Tantangan Operasional Jaringan Komputer untuk Bisnis UKM

Manajer jaringan komputer di bisnis kecil dan menengah (UKM) memiliki sedikit kemungkinan untuk kesalahan saat menyampaikan konektivitas dan layanan jaringan. Lingkungan infrastruktur yang mereka kelola sering sama penting dan kompleks seperti perusahaan besar. Namun, organisasi-organisasi yang lebih kecil harus beroperasi dengan anggaran terbatas dan lebih sedikit tenaga ahli dan administrator jaringan komputer. Mengingat situasi ini, tim operasi jaringan ini harus berhati-hati dalam memilih alat manajemen jaringan yang dapat memenuhi kebutuhan unik mereka.

Bisnis UKM perlu alat yang memberikan visibilitas pemantauan jaringan virtual yang bersifat end-to-end. Hal ini merupakan tantangan nomor satu bagi 28% perusahaan kecil dan 29% pada perusahaan menengah. Alat monitoring jaringan komputer dengan peta jaringan yang luas dapat menunjukkan ketergantungan dan data monitoring jaringan. Alat ini dapat mengirimkan alert / peringatan dan juga meningkatkan visibilitas end-to-end pada lingkungan virtual.

Hasil penelitian menemukan sejumlah tantangan operasional jaringan komputer yang mempengaruhi perusahaan dari semua ukuran. Sebanyak 24% perusahaan mengalami kekurangan sumber daya manusia dan anggaran. Lainnya tidak memiliki visibilitas yang memadai dan kontrol atas layanan cloud eksternal (23%), dan beberapa mengalami kekurangan visibilitas lintas-domain (19%).

Untuk menjawab tantangan terhadap sumber daya yang terbatas, manajer jaringan membutuhkan alat yang terjangkau dan mudah digunakan. Untuk mengatasi kurangnya visibilitas pada layanan cloud eksternal dan seluruh domain infrastruktur, mereka membutuhkan solusi monitoring jaringan yang dapat melihat seluruh bidang infrastruktur jaringan. Dengan dukungan ketepatan protokol, integrasi, dan pemodelan data, solusi monitoring jaringan dapat memberikan visibilitas yang lebih komprehensif.

Monitoring Jaringan Terintegrasi Sangat Penting

Perangkat Monitoring Jaringan - PRTG

UKM juga harus dapat menghindari jebakan dari toolset manajemen jaringan terfragmentasi. Banyak perusahaan kecil yang menggunakan 11 hingga 15 peralatan jaringan dan alat troubleshooting. Ini dapat menyebabkan operasional jaringan yang tidak efektif. Sebuah penelitian menemukan bahwa perusahaan dengan 11 atau lebih alat monitor jaringan hanya dapat mendeteksi hingga 48% dari masalah jaringan. Sebaliknya, perusahaan dengan empat sampai 10 alat jaringan dapat menangkap 64% masalah jaringan sebelum terdeteksi oleh pengguna akhir mereka. Sedangkan tim operasional jaringan yang hanya menggunakan satu sampai tiga alat monitor jaringan dapat mendeteksi 71% dari masalah jaringan sebelum pengguna berpengaruh pada pengguna akhir.

Dengan menggunakan peralatan monitoring jaringan komputer yang terintegrasi, tim IT perusahaan dapat lebih mudah dalam mengelola jaringan. Mendeteksi dan memulihkan masalah sebelum berdampak pada pengguna akhir harus menjadi fokus utama para manajer jaringan.

Karakteristik Platform Operasional Jaringan untuk UKM

Perusahaan biasanya membingkai evaluasi sistem manajemen jaringan dalam hal kebutuhan bisnis dan persyaratan teknis. Penelitian telah menetapkan bahwa bisnis UKM membutuhkan alat manajemen yang mudah digunakan, efisien, dan terintegrasi dengan baik dengan sistem manajemen lainnya.

“Kemudahan penggunaan” dan “integrasi dengan produk manajemen TI lainnya” di kombinasikan sebagai dua kebutuhan bisnis terhadap produk manajemen jaringan.

37% perusahaan dari semua ukuran memakai keduanya. Biaya yang lebih rendah dan kemampuan untuk mendapatkan nilai yang cepat dari perangkat manajemen jaringan juga sangat penting untuk semua perusahaan. 35% dari tim infrastruktur jaringan memerlukan biaya perawatan yang lebih rendah, dan ini lebih penting untuk perusahaan kecil (40%). Sebuah total biaya kepemilikan yang rendah merupakan syarat utama bagi 33% dari perusahaan, dan pengembalian investasi yang cepat adalah penting untuk 31% dari mereka.

Dalam hal persyaratan teknis, pelaporan yang dapat disesuaikan dan dilakukan secara otomatis menduduki puncak daftar keinginan. 37% dari semua perusahaan menampatkan kebutuhan tersebut sebagai yang paling atas. Log analisis file (35%) dan dukungan khusus untuk lingkungan server virtual (35%), lingkungan cloud (33%), dan perangkat jaringan virtual (32%). Dukungan untuk lingkungan cloud adalah sangat penting untuk usaha kecil (40%).

 

Outsourcing Menghemat Biaya IT dan Meningkatkan Efisiensi

Outsourcing Menghemat Biaya IT dan Meningkatkan Efisiensi

Sebagaimana teknologi baru terus bermunculan, IT tetap menjadi kunci untuk transformasi pelayanan publik yang ada. IT menjadi semakin penting dalam cara perusahaan beroperasi dan memberikan kesempatan baru untuk mempercepat perubahan. Disamping itu, outsourcing IT juga dapat meningkatkan kelincahan dan mengurangi pemakaian modal untuk kebutuhan operasional IT. Dengan menggunakan jasa outsourcing IT, perusahaan dapat menghemat hingga 30%. Lantas, bagaimana outsourcing menghemat biaya IT anda hingga 30% ?

Memanfaatkan Potensi IT dengan Jasa Outsourcing

Memanfaatkan Potensi IT dengan Jasa OutsourcingAdopsi dan integrasi layanan cloud adalah salah satu daerah yang mendapatkan kecepatan terbaik di sektor publik dan swasta dan menciptakan pendekatan baru untuk memanfaatkan perkembangan IT terbaru.

Baik sektor publik maupun swasta, memanfaatkan potensi IT merupakan tantangan yang sering tidak mungkin layak untuk dijadikan fokus utama organisasi. Ini berarti bahwa Anda mungkin tidak memiliki skala atau daya beli teknis untuk selalu mendapatkan yang terbaik dalam urusan IT.

Dengan mitra outsourcing Anda dapat mencapai keduanya, mengamankan nilai terbaik dari vendor, kualitas layanan dan kebutuhan IT perusahaan dan anggaran yang dapat diprediksi. Hasil akhirnya adalah waktu untuk fokus pada strategi, inisiatif transformasional yang dapat membawa organisasi Anda ke depan. Tentunya hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi dan pelayanan yang lebih baik ke pelanggan.

Sementara sektor publik lokal telah mengadopsi layanan dan outsourcing secara bersamaan di beberapa sektor, ada lebih banyak kesempatan untuk mencapai efisiensi. Banyak perusahaan besar dan pemerintahan di negara maju selama bertahun-tahun telah menikmati manfaat outsourcing dalam banyak fungsi termasuk IT. Perubahan struktural lokal dapat membuat menjadi rute yang lebih menarik untuk mengadopsi layanan digital bagi konsumen dan masyarakat.

Studi Kasus: Outsourcing Menghemat Biaya IT di Suatu Negara

Sebuah perusahaan Outsourcing IT di Inggris telah bekerja dengan Dewan Kota Southampton sejak tahun 2007. Merka telah membantu mencapai penghematan yang signifikan pada biaya IT, meningkatkan ketersediaan layanan dan mengadopsi cara-cara baru untuk bekerja.

Banyak dari sebagian besar layanan pemerintahan telah di digitalkan dan tersedia secara online melalui website baru. Antara lain, warga kini dapat melaporkan lubang, periksa jadwal pengambilan sampah dan pembayaran pajak daerah secara online. Hal ini dapat menghemat keuangan Pemda, dan membuat akses ke layanan yang tersedia untuk penduduk 24 jam sehari / 7 hari per minggu.

Mengadopsi teknologi mobile berarti bahwa sekitar 500 staf sekarang dapat bekerja dari jarak jauh. Hal ini menguntungkan daerah seperti Perbaikan Perumahan di mana staf dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang membutuhkannya. Pemda dapat memanfaatkan jasa Outsourcing IT untuk mengadopsi dan beradaptasi pada teknologi baru dengan mudah tapi tetap fokus untuk memberikan layanan berkualitas tinggi kepada warga.

Aspek Keamanan Cloud dan Kedaulatan Data

Cloud computing juga berdampak pada dunia outsourcing. Fleksibilitas dan kelincahan merupakan faktor menarik. Namun kekhawatiran terhadap keamanan dan kedaulatan data tetap ada. Misalnya, peraturan usaha, seperti utilitas, bank atau organisasi sektor publik harus berpikir hati-hati tentang keamanan data dan kedaulatan data. Bagi banyak orang, kedaulatan data mungkin tidak dapat diterima untuk menempatkan data penting di negara lain. Peran jasa IT outsourcing kini semakin membantu klien untuk membuat investasi yang tepat dalam layanan cloud privat / publik atau hibrida – dan membuat semuanya bekerja. Bagian ini sering diremehkan.

Dengan memakai jasa managed services yang telah ber-investasi secara signifikan pada sebuah fasilitas cloud-ready data center dapat memberikan fleksibilitas yang sama, fungsi dan kegunaan awan publik, tetapi menjamin keamanan data dan kedaulatan data. Itu berarti para pengguna jasa IT Outsourcing dapat yakin bahwa data mereka hanya berada di Indonesia.

Jasa Outsourcing Menghemat Biaya IT Hingga 30%

Layanan IT outsourcing menyatukan yang terbaik dari pelayanan publik dan cloud yang diantisipasi untuk mencapai penghematan sekitar 30% dalam biaya IT.  Manfaat keseluruhan sangat tergantung pada bagaimana organisasi mengadopsi komputasi utilitas tapi penghematan biaya dan transformasi layanan adalah apa yang membuat Outsourcing menjadi layak untuk anda pertimbangkan.

perbandingan vdi dengan desktop pc

Seperti dalam penggunaan desktop, sebuah jasa managed services dapat membuat sistem lingkungan Infrastruktur Virtual Desktop. Dengan menggunakan thin client, anda dapat menghemat biaya kepemilikan hingga 81%. Demikian dengan biaya maintenance. Hal ini akan lebih terasa bagi anda dalam kurun waktu 4 tahun kedepan. Dimana konsumsi listrik Thin Client + Server masih jauh lebih hemat ketimbang pemakaian PC stand alone. Dari sini sangat jelas outsourcing menghemat biaya kepemilikan IT dan biaya operasional IT secara reguler.

Disamping itu, keamanan dengan sistem thin client dapat lebih terjaga. Kebanyakan insiden keamanan disebabkan dari dalam. Dengan lingkungan Virtual Desktop terpusat, anda dapat bermitra dengan jasa outsourcing IT untuk memonitor seluruh aktivitas.

Selain itu, untuk anda perusahaan yang memiliki infrastruktur IT yang besar, sebuah jasa managed service dapat menghemat banyak uang anda dengan mengoptimalkan infrastruktur IT anda. Ada suatu saluran yang dikenal dalam DevOps yakni “Docker” yang dapat menghemat utilisasi infrastruktur IT anda, jauh lebih hemat dari sistem hypervisor.

Kesimpulan:

Dari penjelasan diatas, tentunya dapat dipahami bahwa jasa outsourcing menghemat biaya kepemilikan dan biaya operasional IT perusahaan anda. Bahkan hingga skala pemerintahan di suatu negara. Selanjutnya adalah : bagaimana cara memilih jasa outsourcing IT yang tepat dan cocok untuk bisnis anda.

Pin It on Pinterest

Share This