0 888 1 6262 52
Mengukur Biaya Per Install Pada Bisnis Aplikasi Mobile

Mengukur Biaya Per Install Pada Bisnis Aplikasi Mobile

Salah satu parameter terpenting para marketing aplikasi seluler yang perlu diukur adalah biaya per Install (CPI). Hal ini memberikan informasi berapa biayanya untuk menghasilkan satu pemasangan aplikasi di “ponsel cerdas” atau tablet. Pada tahap ini, semua platform aplikasi seluler periklanan yang utama, yang memperbolehkan aplikasi para marketing di pasang untuk aplikasi mereka, yang memiliki kemampuan menghitung parameter ini dan memberikannya sebagai bagian dari kumpulan data tersajikan.

Nilai CPI (biaya per install) secara alami berfluktuasi sesuai waktu dan bergantung pada platform iklan tertentu. Sistem operasi seluler, ruang penyimpanan dari sebuah ponsel untuk jaringan aplikasi iklan gabungan dan juga memiliki ketergantungan musiman. Secara historis selama musim liburan di bulan Desember, begitu banyak orang sibuk dengan berbelanja gadget, “ponsel-ponsel pintar” dan tablet pada khususnya, ada dalam daftar belanja. Lonjakan aktivitas belanja ini menyebabkan unduhan aplikasi seluler meningkat dan ini mempengaruhi nilai CPI secara signifikan.

Jadi, di balik keraguan, penting bagi semua usaha untuk mengetahui CPI untuk aplikasi seluler dan mengukur ROI dari perjalanan akuisisi penggunaan aplikasi seluler tertentu.

Rata-rata Biaya per Install

Sangat penting untuk mengetahui nilai rata-rata industri agar CPI dapat mengalokasikan anggaran promosi dengan benar. Pada artikel ini, kami telah mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menarik gambaran menyeluruh tentang Biaya Per Install untuk iOS dan Android, di berbagai wilayah dan kategori-kategori aplikasi.

Statistik Rata-rata Biaya Per Install:

  • CPI aplikasi iOS secara global : Rp. 16.500
  • CPI aplikasi iOS di AS : Rp. 21.750
  • Biaya aplikasi iOS per pengguna setia di AS : Rp. 37.000
  • CPI aplikasi iOS di Eropa : Rp. 18.600
  • CPI aplikasi iOS di Asia : Rp. 12.000
  • CPI aplikasi Android di AS (pasar Google Play) : Rp. 25.375
  • CPI aplikasi Android di AS (pasar Google Play) : Rp. 25.375
  • CPI aplikasi Android di AS (pasar Amazon) : Rp. 23.115
  • CPI aplikasi Android di Eropa (pasar Google Play) : Rp. 13.150
  • Aplikasi Android CPI di Eropa (pasar Amazon) : Rp. 5.450
  • CPI aplikasi Android di Asia (pasar Google Play) : Rp. 9.830
  • Aplikasi Android CPI di Asia (pasar Amazon) : Rp. 3.450

Mari kita lihat berbagai faktor yang mempengaruhi biaya per pemasangan untuk aplikasi seluler, seperti sistem operasi, lokasi geografis, dan kategori aplikasi tertentu.

Silahkan Baca Juga : Mengukur Biaya Akuisisi Pelanggan

Biaya per instal secara Global,bulan Maret 2016

Menurut data dari platform aplikasi promosi “Geenapp “, saat ini biaya pemasangan aplikasi iOS pada angka Rp. 16. 475 dan jumlahnya sama untuk aplikasi iPhone dan iPad. Sementara itu, biaya pemasangan aplikasi Android kurang signifikan, hanya Rp. 7.000 per pemasangan. Ini adalah angka rata-rata dan berfluktuasi setiap hari. Fluktuasi tersebut bergantung pada jumlah iklan promosi yang dianalisis di seluruh dunia.

Perbedaan biaya pemasangan antara iOS dan aplikasi Android dapat dijelaskan oleh fakta bahwa platform Android memiliki lebih banyak aplikasi daripada iOS. Tingkat adopsi yang lebih tinggi, terutama di negara-negara seperti India dan China juga mempengaruhi perbedaan tersebut.

geenapps_cpi_globally

Pada grafik diatas, Anda dapat melihat gambar fluktuasi biaya per instal pada iOS dan Android selama bulan Februari tahun 2017. Ini didasarkan pada hampir 13.000 iklan promosi yang telah dianalisa.

Biaya per pemasangan (CPI) Januari 2016 di Amerika

Biaya per pemasangan data aplikasi untuk iOS dan aplikasi android dari Fiksu, platform pemakai seluler di Amerika, menunjukkan bahwa Januari 2016 adalah Rp. 21.800 untuk aplikasi iOS dan Rp. 25.375 untuk aplikasi Android. Disini kita dapat melihat lonjakan signifikan untuk biaya per install pada aplikasi Android selama musim liburan di bulan Desember. Kemudian biaya per install ini telah turun dari dari USD 3,5 per pemasangan menjadi kurang dari USD 2.

Dinamika ini dapat dijelaskan oleh situasi antara penawaran dan permintaan aplikasi Android. Bahwa peningkatan yang signifikan terjadi sebelum Natal dan Tahun Baru dan menurun setelahnya.

fiksu_average_cpi_jan_2016

Situasi dengan biaya per install iOS memiliki dinamika terbalik. Di “App Store” sebuah “lalulintas insentif” berperan signifikan sebagai alat untuk mencapai peringkat yang lebih tinggi dan karenanya banyak digunakan oleh para marketing aplikasi selama musim liburan untuk meningkatkan visibilitas aplikasi mereka. Ini sebenarnya dapat menurunkan biaya per instal dan memaksanya meningkat kembali, begitu liburan usai.

Ada parameter lain lagi yang lebih penting, yang telah dilacak oleh Fiksu selama beberapa tahun, yakni biaya per aplikasi pengguna setia iOS. Perusahaan mendefinisikan pengguna setia aplikasi berdasar frekuensi membuka aplikasi tiga kali atau lebih sejak terakhir kali diunduh. Arti penting parameter ini terletak pada kenyataan bahwa para marketing aplikasi seluler terus-menerus berjuang untuk mempertahankan basis pengguna mereka.

Menurut data tahun 2015 dari penelitian Neilson, sebagian besar waktu yang dihabiskan orang dengan aplikasi seluler hanya dengan 5 aplikasi non-asli. Bulan Januari 2016 biaya per pengguna setia aplikasi iOS mencapai Rp. 37.000 per pengguna setia. Ini memperlihatkan penurunan 34% dari bulan Desember 2015 yang mencapai lebih dari Rp. 53.000.

Biaya Per Pengguna setia aplikasi iOS dalam bulan Januari 2016 di Amerika

 

fiksu_cost_per_loyal_user

source: fiksu

Sekarang, mari kita lihat bagaimana variasi biaya per instal secara geografis. Menurut yang disediakan oleh Charthoost, perusahaan yang membantu pengembang game dalam menghasilkan uang melalui aplikasi mereka. Di antara beberapa negara, ia melacak nilai biaya per instal. Biaya tertinggi per pemasangan aplikasi iOS ditemui untuk wilaya hAustralia yang setara dengan Rp. 43.000 per pemasangan aplikasi.

Negara-negara lain, yang secara kolektif menyajikan 10 negara teratas dengan biaya per instal tertinggi, adalah :   

  • Selandia Baru USD 2,99 / pemasangan
  • Kanada USD 2,93 / pemasangan
  • Hong Kong USD 2,85 / pemasangan
  • Amerika USD 2,78 / pemasangan
  • Swedia USD 2.77 / pemasangan
  • Korea Selatan USD 2.71 / pemasangan
  • Singapura USD 2,68 / pemasangan
  • Norwegia USD 2,63 / pemasangan
  • Taiwan USD 2,59 / pemasangan

App Store atau kategori aplikasi Google Play adalah faktor lain yang mempengaruhi biaya per instal aplikasi ponsel.

Biaya Per Instal rata-rata untuk Non-game secara global, bulan Maret 2016

Sekarang jumlah biaya per pemasangan game di toko aplikasi Android dan iOS melukiskan gambaran yang menarik. Di sisi Android, kami melihat bahwa biaya per install untuk game lebih tinggi daripada non-game. Perbandingan biaya tersebut berkisar USD 0.56 / install terhadap USD 0.35 / install, tapi untuk iOS justru sebaliknya.

Pemasangan aplikasi non-game di App Store lebih mahal daripada game, USD 0,63  v.s USD 0,58 untuk aplikasi iPhone. Ini sama menariknya untuk dicatat bahwa iPad terus menjadi platform terbaik untuk game seluler dan karenanya merupakan kompetisi tingkat tertinggi. Sebagai konsekuensinya biaya per install untuk aplikasi iPad sama dengan USD 0,81, merupakan biaya per instal yang lebih tinggi daripada aplikasi iPhone dan Android.

geenapps_cpi_only_games

Biaya per instal rata-rata hanya untuk aplikasi anak-anak secara global, bulan Maret 2016

Ada sebuah kategori aplikasi tertentu yang dapat kita analisa, tentunya mengenai biaya per install aplikasi juga, yaitu aplikasi untuk Anak-anak. Seringkali, aplikasi yang dibuat untuk kategori ini dipahami dan dikembangkan oleh organisasi nirlaba (perusahaan nonprofit) dan oleh karena itu pertanyaan untuk menentukan anggaran pemasaran dan mengetahui biaya per pemasangan aplikasi sangat penting.

geenapps_cpi_children_apps

Pengambilan data lebih sedikit dalam bidang tersebut dibanding untuk game dan non-game, namun kategori Aplikasi untuk Anak-anak juga lebih kecil secara proporsional. Pada hari ini, biaya per instal rata-rata untuk kategori ini sama dengan USD 0,98 / pasang untuk basis Android, USD 0,60 / pasang untuk iPhone dan USD 0,59 untuk basis iPad.

Kesimpulan:

Biaya Per Install tetap menjadi salah satu parameter terpenting untuk di ukur oleh para pemilik aplikasi seluler. Biaya untuk memperoleh pengguna setia pada sebuah aplikasi merupakan parameter yang lebih penting lagi. Ini dapat memberikan gambaran nyata tentang berapa biaya untuk membangun basis penggemar setia pada sebuah aplikasi dan karenanya akan  dapat menjadikan sebuah dasar pada usaha yang berkelanjutan.

Untuk perusahaan yang mengembangkan usaha di bidang seluler, biaya per instal adalah indikator investasi yang sebenarnya harus dimasukkan ke dalam gabungan jaringan yang mereka gunakan untuk menjangkau pelanggan mereka. Lokasi geografis, sistem operasi seluler dan kategori aplikasi tertentu merupakan faktor penting yang mempengaruhi biaya per install untuk aplikasi tertentu. Para pemilik aplikasi memerlukan analisis data untuk biaya per pemasangan berdasar segmen pasar aplikasi seluler yang mereka operasikan.

 

Digitalisasi Layanan Perbankan Memerlukan Metode Devops

Digitalisasi Layanan Perbankan Memerlukan Metode Devops

DevOps merupakan metode kerja yang sangat diperlukan untuk mendukung transformasi digital. Proses transformasi digital membutuhkan lingkungan sistem yang dapat mendukung pengujian langsung pada sistem yang tengah berjalan. Perusahaan startup Fintech mulai banyak bermunculan dengan menghadirkan digitalisasi layanan perbankan.

Perusahaan Startup Sudah Lebih Dulu Melakukan Digitalisasi Layanan Perbankan dengan Metode DevOps

Para perusahaan startup sudah banyak yang sudah menggunakan metode DevOps. Dahulu, sebelum DevOps, pengembangan memakai konsep Waterfall dan kemudian konsep Agile. Devops merupakan pengembangan lanjutan dari konsep yang terus ber evolusi seiring perkembangan teknologi informasi dan IoT.

Perusahaan startup sudah lebih dulu melakukan digitalisasi layanan perbankan dengan metode DevOps. Persaingan akan berkisar pada kualitas aplikasi fintech.

Dengan konsep DevOps, perusahaan dapat lebih sering dan lebih cepat dalam memproduksi rilis-rilis baru pada aplikasi layanan fintech. Kualitas aplikasi tersebut juga sudah teruji pada sistem yang berjalan untuk operasional sehari-hari. Feedback dari pengguna dan nasabah juga dapat lebih cepat diterima untuk di tindak-lanjuti, dan ini dapat menambah kualitas performa aplikasi fintech anda dari waktu-ke-waktu.

Persaingan di era transformasi digital ini akan berkisar pada kualitas aplikasi mobile untuk layanan transaksi keuangan digital. Digitalisasi layanan perbankan akan membawa perubahan dalam banyak cara, yang jelas akan semakin mudah, cepat, aman dan efisien. Jika perusahaan startup melakukan hal semacam ini, tentunya lama kelamaan dapat mengguncang perusahaan skala besar.

Sebagai contoh, jika perusahaan A telah melakukan transformasi digital pada jalur yang benar dengan menggunakan DevOps, dan perusahaan B melakukan transformasi digital tanpa menggunakan DevOps, tentunya perusahaan A akan lebih cepat dalam mengeluarkan fitur-fitur terbaru. Fitur tersebut dapat berasal baik dari feedback pengguna dan pelanggan, maupun dari analisa bisnis manajemen di perusahaan tersebut.

Perusahaan B, tanpa menerapkan DevOps, tentunya akan lebih sering menemui downtime pada sistem. Sebab, tanpa pengujian di lingkungan operasional yang sedang berjalan (live-testing), maka jika terdapat kesalahan kode dapat menyebabkan gangguan hingga kelumpuhan sistem. Dalam hal ini, perusahaan B akan membutuhkan biaya disaster recovery yang lebih tinggi ketimbang perusahaan A. Biasanya, untuk tipe perusahaan B, hampir seluruh infrastruktur harus mereka cadangkan untuk menghadapi downtime.

Dalam melakukan proses digitalisasi layanan perbankan, akan sering kita temui pola hybrid. Seperti, untuk aplikasi akan host di layanan cloud publik dan untuk data akan di host di data center lokal milik perusahaan. Sedangkan untuk pencadangan sistem, bisa menggunakan cloud DRC atau on-premise DRC.

Downtime Tetap Akan Menjadi Tantangan Dalam Digitalisasi Layanan Perbankan

Dalam hal pencadangan sistem, banyak kesalahan-pahaman besar yang masih terjadi. Dengan menganggap bahwa perusahaan mampu untuk membuat situs pencadangan infrastruktur IT, ini tetap tidak menghilangkan kenyataan bahwa : Tidak ada yang kebal terhadap downtime. Ini artinya, sebuah Data Center untuk pencadangan infrastruktur IT perusahaan harus memiliki standar tertentu, yakni dengan jaminan ketersediaan akses selama 24 jam penuh, dan harus terus menerus beroperasi dari hari ke hari.

Data center yang dimaksud diatas adalah sebuah data center dengan tingkatan TIER III. Sertifikasi data center Tier III yang di akui di seluruh dunia hanya dari UPTIME INSTITUTE. Anda dapat memperkecil periode downtime, dari hitungan hari ke jam, dari hitungan jam ke menit.

Jika 1 jam downtime dapat mengakibatkan kerugian puluhan milyar rupiah, maka tentunya dengan menggunakan sarana disaster recovery pada data center bersertifikat TIER III dapat memperkecil kerugian anda. Ingat, pada kenyataannya tidak ada yang benar-benar kebal terhadap downtime. Pilihannya hanya : menunggu terjadi downtime, atau mempersiapkan (mitigasi) downtime dengan sarana DRC Tier III dari pihak ke tiga.

Kenapa DRC harus terpisah dari data center utama ?

Jika terjadi bencana, seperti serangan DDoS pada seluruh sistem jaringan perusahaan anda, maka pengalihan ke DRC di jaringan yang sama tidak akan berguna. Contoh lainnya, jika sebuah ransomware berhasil menyusup ke sistem anda, otomatis DRC anda juga terkena serangan. Setelah mengalihkan serta memulihkan kembali sistem anda, ransomware masih tetap ada pada beberapa file atau data anda.

Sebuah layanan disaster recovery center akan selalu update terhadap isu dan teknologi terbaru. Seperti pada cloud DRC, agen yang terpasang dapat mendeteksi perilaku dan dapat menghentikan proses replikasi jika mengenali adanya serangan malware. Ini merupakan hal serius dan merupakan fokus penting di berbagai negara. Digitalisasi layanan perbankan membutuhkan teknologi yang mendukung selain metoda kerja DevOps.

Metode kerja DevOps dapat meningkatkan keamanan infrastruktur IT anda. Seluruh komponen infrastruktur anda harus dapat di orekstrasi, karena akan banyak proses integrasi yang dilakukan. Contoh, aplikasi fintech membutuhkan untuk dapat saling terhubung dengan aplikasi dan sistem lain. Semakin banyak keterhubungan suatu aplikasi fintech dengan aplikasi dan sistem pembayaran antar bank, maka aplikasi tersebut semakin fleksibel dan akan lebih banyak di gunakan orang.

Tujuan transformasi digital pada layanan perbankan tetap pada jalur customer-centric. Dengan kemudahan, kecepatan, kenyamanan dan keamanan, perusahaan dapat meningkatkan layanan digital. Oleh karena itu, kedepannya akan semakin banyak digitalisasi layanan perbankan yang dilakukan di sektor jasa keuangan di Indonesia. Dan tentunya, dengan menggunakan metode DevOps.

Peluang dari digitalisasi perbankan ini cukup luas, baik untuk pelaku usaha di sektor jasa keuangan maupun teknologi. Pasar colocation server akan semakin meningkat seiring waktu, oleh karena itu penyedia data center tidak perlu saling merebut pangsa pasar 😉

Pin It on Pinterest