0 888 1 6262 52
Strategi Hibrid Cloud untuk Perusahaan Jasa Konstruksi

Strategi Hibrid Cloud untuk Perusahaan Jasa Konstruksi

Sektor konstruksi dikenal kurang inovatif dalam hal teknologi informasi. Data Biro Statistik di Australia terbaru menunjukkan bahwa hanya sepertiga perusahaan konstruksi dapat digolongkan sebagai “inovasi-aktif”. Ini jika dibandingkan dengan lebih dari setengah bisnis di sektor pergudangan, telekomunikasi, dan ritel. Tapi satu perusahaan konstruksi ingin mengubahnya dan memimpin dengan memberi contoh. Mereka melakukan inovasi menggunakan strategi hibrid cloud.

Perusahaan Jasa Konstruksi Berinovasi Dengan Strategi Hibrid Cloud

Sebuah perusahaan konstruksi di Australisa yang didirikan pada tahun 1998 mencoba membangun mimpi. Perusahan tersebut bergerak sebagai perusahaan jasa konstruksi, renovasi, dan interior untuk pelanggan seperti Apple, Cartier, Commonwealth Bank, Hewlett-Packard, Louis Vuitton, National Australia Bank, Ramsay Healthcare, St George, Virgin Australia, dan Westpac.

Perusahaan mengklaim telah dapatkan hasil berlipat ganda selama lima tahun terakhir dengan pendapatan dan jumlah karyawan. Saat ini menghasilkan pendapatan tahunan sebesar AU $ 1 miliar atau sekitar Rp. 10.5 triliun, mempekerjakan 700 staf di enam negara bagian. Perusahaan ini mengelola proyek jasa konstruksi berukuran Rp. 21 milyar dan telah menetapkan tingkat klien berulang sebanyak 70 persen.

Manajer IT perusahaan, Wai-Lum Tang, yang telah berada di perusahaan tersebut selama 18 bulan, mengatakan salah satu alasan perusahaan tersebut dapat tumbuh dengan cepat “seperti startup” adalah karena keinginannya untuk berinovasi. Dengan menggunakan strategi hybrid cloud yang tepat, hal tersebut dapat dicapai.

“Kami benar-benar menantang status quo di industri konstruksi untuk menemukan cara baru yang lebih baik dalam melakukan sesuatu,” kata Tang.

“Kami telah berinvestasi di aplikasi kami sendiri untuk mengelola aspek seperti keamanan, kualitas, dan pengadaan”

“Ada banyak teknologi menarik yang masuk ke dalam ruang kami, dan bagi kami, ini tentang bagaimana kami menggunakannya dan mengintegrasikannya untuk mencapai hasil positif bagi orang, bisnis, dan pelanggan kami.”

Perusahaan berusia 19 tahun tersebut menerapkan pendekatan “cloud-first” di tingkat infrastruktur dan aplikasi untuk semua hal yang dapat dilakukan. Teknologi berbasis cloud memberikan kemampuan baru yang lebih cepat dan lebih hemat biaya dan memberikan keuntungan besar bagi bisnis mereka.

Manfaat Strategi Hibrid Cloud untuk Bisnis Jasa Konstruksi

Manfaat strategi hibrid cloud terbesar adalah margin yang membaik di industri dimana laba semakin tipis. Pada tahun fiskal 2014-15 marjin keuntungan industri adalah 10,2 persen, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Bankwest. Biaya operasional bervariasi karena volatile harga komoditas.

Sejak menerapkan teknologi berbasis cloud, banyak yang beroperasi pada model berlangganan atau berbasis konsumsi. Perusahaan jasa konstruksi tersebut telah mampu meramalkan pembelanjaannya sesuai dengan profil pertumbuhannya. Ini merupakan salah satu cara melakukan transformasi digital dari sisi bisnis yang efisien dan hemat investasi.

Perusahaan ini menggunakan platform cloud publik dan cloud private sebagai implementasi strategi hibdird cloud. Mereka mengandalkan Amazon Web Services (AWS) untuk menyimpan aset hosting web-nya, sementara cloud privatnya dikelola oleh penyedia cloud lainnya.

Tang mengatakan bahwa grup IT perusahaan saat ini menjalankan strategi platform cloud-nya “seperti portofolio investasi” karena ia memilih platform yang tepat – publik atau private – untuk aplikasi atau alat yang digunakannya.

Menggunakan infrastruktur cloud publik untuk aplikasi seperti email, penyimpanan file, komunikasi tim, manajemen konstruksi, manajemen proyek, dan bidang produktivitas lainnya. Beberapa aplikasi ini dibangun secara internal, sementara yang lain ada yang bersumber dari luar.

Mereka tidak memiliki server email sendiri, tapi menggunakan Microsoft 365. Selain itu, perusahaan kontraktor tersebut menggunakan Dropbox untuk penyimpanan file, Slack untuk komunikasi internal, dan Trello untuk manajemen kerja. Sistem manajemen identitas, sistem manajemen perangkat mobile, dan ERP juga berbasis cloud. Basis SaaS (Software-as-a-servce) yang digunakan tidak memerlukan infrastruktur, yang berarti tim IT perusahan tidak perlu mengelola infrastruktur IT untuk hal tersebut.

Infrastruktur private cloud digunakan untuk aset internal seperti file yang tidak akan dibagi dengan siapa saja yang tidak dipekerjakan secara langsung.

Inovasi Manajemen Infrastruktur

Perjalanan cloud hibrida yang dibangun dimulai sekitar dua tahun yang lalu ketika perusahaan memutuskan untuk melakukan outsourcing infrastruktur IT.

Data center utama perusahaan adalah lingkungan host yang dikelola secara multi-tenant. Menurut Tang bekerja “secara signifikan lebih baik” untuk perusahaannya. Kelompok IT harus tetap “gesit” sehingga bisa cepat merespon berbagai kebutuhan bisnis. Oleh karena itu, strategi hibrid cloud dan pola kerja kolaboratif (BizDevOps) akan sangat berguna.

Tang mengidentifikasi pengelolaan sumber daya yang lebih cerdas sebagai salah satu manfaat terbesar untuk beralih ke lingkungan cloud hibrida, dengan menjelaskan bahwa kelompok IT perusahaan tersebut sekarang mendapatkan lebih banyak waktu untuk menemukan atau membangun solusi daripada mengelola server, jaringan, dan sistem operasi.

Di masa lalu, kita harus mengeluarkan banyak uang untuk membangun private cloud dan menggunakan sumber daya teknis yang sangat khusus untuk membangun dan mengelola lingkungan serta mengelola barang-barang teknis rinci seperti hypervisor, operasi input / output, permintaan / kapasitas manajemen, dan masalah jaringan.Kemudian mungkin dua kali lipat untuk membangun lingkungan [disaster recovery] yang mumpuni.

Tim IT perusahan jasa konstruksi tersebut tidak menghabiskan waktu untuk mengelola semua poin teknis tersebut. Mereka mengandalkan outsourcing IT untuk mengelola keseluruhan lingkungan dan memanfaatkan tim ahli mereka. Hal tersebut memungkinkan perusahaan untuk berfokus pada perekrutan sumber daya yang dapat berfokus pada mengatasi tantangan bisnis dan bukan server dan jaringan.

Pendekatan cloud hybrid, juga memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan daya tanggap dan aplikasi prototipe IT dengan lebih mudah.

Sebelumnya, ketika Anda ingin menyebarkan aplikasi, Anda akan memutar server, mengkonfigurasinya, menambal, dan mengarsipkannya. Kemudian ketika kotak itu sudah siap, Anda perlu menginstall aplikasi ini. Setelah itu mencari tahu bagaimana cara mengaktifkannya, mengakses dan kemudian menyebarkan ke pengguna Anda. Itu terlalu banyak langkah untuk bekerja dan menyebarkan aplikasi.

Bila Anda mempertimbangkan banyak tim didasarkan pada situs konstruksi, ini bisa memakan banyak waktu, yaitu waktu yang tidak dihabiskan untuk melanjutkan proyek bagi pelanggan.

Membuat Kolaborasi Lebih Produktif

Perusahaan konstruksi tersebut menyadari bahwa dibutuhkan pengelolaan dan akses file terpusat yang memudahkan kolaborator proyek untuk mengedit dan berbagi file lebih cepat dan lebih aman dari workstation atau perangkat apa pun.

Sebelumnya, perusahaan menggunakan perangkat penyimpanan terpasang jaringan di setiap lokasi proyek, namun beralih ke Dropbox pada bulan Oktober tahun lalu. Ini juga memiliki server file lokal di setiap kantor regional dan pusat data. Sementara sekarang perusahaan tersebut melengkapi server lokalnya dengan Dropbox, yang menurut Tang memungkinkan perusahaan memperoleh “yang terbaik dari kedua lingkungan”.

“Anda mendapatkan dokumen pemasaran besar yang tidak dapat Anda kirimi email, Anda tidak dapat dengan mudah menularkan, dan Anda tidak dapat dengan mudah menggunakan teknologi VPN untuk membukanya … Sulit mengakses file di luar kantor atau pada teknologi mobile” Kata Tang

Kemudahan Teknologi SaaS

“Dengan Dropbox, kami dapat dengan mudah berbagi file dengan rekan kerja atau kolega kami, dengan orang-orang di kota dan kantor lain, yang berarti kami dapat mendatangkan sebuah tim yang tidak hanya duduk bersama secara lokal, namun secara nasional mengerjakan sebuah proyek atau tawaran. “

Menggunakan Dropbox bersamaan dengan aplikasi berbasis cloud lainnya seperti Trello, kata Tang, memberikan perusahaan kemampuan dalam merespon tender empat kali lebih banyak daripada yang bisa dilakukannya dari setahun yang lalu. 

“Tim pemasaran kami akan mempersiapkan dokumentasi, menyiapkan desain, dan menyusun semuanya, dan alih-alih meminta semua rekan kerja untuk berkomentar secara online, kami akan mencetaknya dan meletakkannya di atas meja, atau kami akan mengirimkannya melalui email Ketika semua orang memasukkan balasan, catatan, dan markup mereka, sebelum Anda menyadarinya, dokumentasinya sudah ketinggalan zaman, “kata Tang.

“Tapi yang bisa kami lakukan sekarang adalah meletakkan dokumentasi secara online … dan orang-orang dapat mengomentari markup atau variasi lainnya secara real-time. Jadi, prospek tender yang masuk ke PC atau laptop atau iPad-nya selalu merupakan versi paling up-to-date dan kami bisa mengikuti persyarata tender lebih cepat. “

Jasa Manajemen Hybrid Cloud

Elitery menghadirkan jasa manajemen untuk lingkungan hybrid cloud untuk kelancaran, keamanan dan efisiensi operasional IT perusahaan anda.

Sementara Tang tidak dapat mengungkapkan laba atas investasi di Dropbox, dia mencatat bahwa menyelesaikan empat kali lebih banyak tender berarti “empat kali kesempatan menempatkan diri di depan calon klien”.

“Akhirnya, itu berarti mengamankan lebih banyak pekerjaan untuk order jasa konstruksi,” Tang menambahkan.

Manajemen Data Lama dan Baru

Tang mengatakan salah satu tantangan terbesar seputar penerapan strategi hibrid cloud adalah mengidentifikasi titik permulaan ketika sampai pada data terdahulu.

“Karena kita memiliki lingungan hibrida, kita tidak perlu membawa semuanya bersama kita ke cloud publik. Misalnya, kita memiliki sekitar 70 lokasi proyek di seluruh kelompok dan tidak setiap situs proyek yang saat ini akan berada di Dropbox, “kata Tang.

Namun, untuk proyek baru yang masuk, kita perlahan memasukkannya ke Dropbox … dengan begitu, kita tidak perlu membawa informasi warisan. Kita tidak perlu mengubah cara tim proyek yang ada, cukup dengan melatih mereka pada proyek yang baru.

Jasa Pembuatan Website untuk Perusahaan

JakartaUrbanHosting memberikan jasa pembuatan website untuk perusahaan di seluruh Indonesia dengan fungsi dan fitur yang dapat mendukung program transformasi digital bisnis anda.

Memisahkan data warisan dan dataset baru adalah hal terpenting. Terutama jika perusahaan telah berlangganan model berbasis konsumsi dengan vendor cloud.

Bila memungkinkan, perusahaan harus mengadopsi solusi hibrida karena bisnis anda bisa mendapatkan yang terbaik dari kedua lingkungan cloud tersebut. Ini merupakan kunci sukses dari transformasi digital di seluruh industri dan bisnis.

“Tapi sebelum melompat ke solusi cloud hibrida, tanyakan pada diri sendiri: ‘Apa yang akan dilakukan seorang startup?’

Tentu dalam menerapkan strategi hibrid cloud, bisnis harus dapat memperjelas area yang efektif untuk diterapkan.

Model cloud hibrida adalah enabler yang hebat bagi perusahaan untuk mengakses aplikasi dan teknologi tanpa menerapkan data center yang mahal. Ini sangat berharga untuk bisnis dengan sumber daya terbatas untuk mengalokasikan anggaran IT perusahaan.

Oleh karena itu, untuk anda yang sedang melakukan transformasi digital, mulailah untuk mempertimbangkan menggunakan solusi hybrid cloud.¬†Semoga artikel ini bermanfaat bagi bisnis anda ūüėČ

Risiko Pada Proyek Migrasi Data dan Beberapa Solusinya

Risiko Pada Proyek Migrasi Data dan Beberapa Solusinya

Standar dan teknologi terus berkembang. Persyaratan bisnis seringkali merupakan pendorong utama untuk melakukan migrasi. Proyek migrasi data tidak hanya berbiaya mahal dan padat sumber daya, namun juga memerlukan perencanaan, alat yang tepat, dan pengujian intensif yang cermat agar berhasil.

Migrasi data adalah proses memindahkan data dari satu sistem ke sistem lain. Biasanya dari sistem lama ke dalam sistem baru, yang dikenal sebagai sistem target atau aplikasi. Kombinasi dari terjadinya proses migrasi data dan sumber daya yang dikonsumsi dalam proyek migrasi data menghasilkan sejumlah besar anggaran TI untuk perusahaan manapun.

Mengapa Perusahaan Mengadakan Proyek Migrasi Data?

  • Akuisisi dan penggabungan unit bisnis / organisasi yang memicu perubahan proses dalam organisasi.
  • Untuk meningkatkan efisiensi, kinerja dan skalabilitas aplikasi perangkat lunak.
  • Untuk menyesuaikan perubahan baru dalam hal teknologi, praktik pasar, efisiensi operasional, persyaratan peraturan menghasilkan layanan pelanggan yang lebih baik.
  • Untuk menurunkan biaya operasional dan efisiensi dengan merampingkan dan menghilangkan bottleneck dalam proses aplikasi atau ketika berbagai pusat data dipindahkan ke cluster di satu lokasi.

Perbedaan Jenis Migrasi Data

Terdapat perbedaan dan cara migrasi data, berikut penjelasan mengenai perbedaan jenis migrasi data.

  • Migrasi Data Base:

    Ketika data dimigrasikan dari vendor database yang ada ke vendor database lain atau basis data yang ada diperbarui ke versi terbaru. Misalnya: Database IBM DB2 ke Oracle Database.

  • Relokasi data center:

    Ketika sebuah data center dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lain, kita perlu memigrasikan data dari database data center lawas ke data base di data center target.

  • Migrasi aplikasi:

    Saat aplikasi dimigrasikan, misalnya migrasi dari server enterprise lokal ke lingkungan awan atau dari satu lingkungan awan ke lingkungan lainnya, data yang mendasarinya juga perlu dimigrasikan ke aplikasi baru.

  • Migrasi proses bisnis:

    Ketika sebuah proses bisnis berubah karena merger, Akuisisi, optimasi bisnis berlangsung, Tergantung pada sifat perubahan proses bisnis, data perlu dipindahkan antara berbagai sistem penyimpanan atau aplikasi atau lokasi.

Risiko Pada Proses Migrasi Data dan Solusinya

Risiko kehilangan data

Bila data tersedia dalam sistem lawas namun setelah proses migrasi, jika tidak tersedia di sistem target, maka data tersebut disebut sebagai data loss. Kehilangan data merupakan risiko tertinggi dalam proyek migrasi data. Biaya yang diperlukan untuk meluruskan kerugian data dan biaya bisnis disebabkan karena data yang buruk menambah risiko finansial dan reputasi.

Solusi: Rekonsiliasi

Ada dua macam rekonsiliasi, rekonsiliasi jumlah dan rekonsiliasi kolom kunci keuangan.

Membandingkan jumlah catatan di sistem yang lama dan sistem target akan memberikan penilaian yang adil tentang kehilangan data dalam migrasi. Memant tidak harus selalu sama jumlah data pada sistem lama dan sistem target. Mungkin ada aturan bisnis untuk menolak catatan berdasarkan parameter tertentu, sepanjang anda telah tentukan tingkat gravitasi data. Jika aturan tersebut digunakan, maka jumlah catatan dalam sistem lawas harus sesuai dengan jumlah catatan yang ditolak ditambah jumlah catatan dalam sistem target. Penguji juga harus memvalidasi alasan penolakan sesuai peraturan bisnis.

Rekonsiliasi kolom keuangan utama adalah pencatatan penjumlahan dari semua kolom keuangan utama, yaitu menutup saldo, keseimbangan yang tersedia, dan sebagainya. Dengan membandingkan antara sistem lama dan target, anda dapat mengidentifikasi kehilangan data. Jika ketidak cocokan ditemukan, kita dapat menelusuri tingkat yang terperinci untuk menemukan catatan atau catatan mana yang tidak sesuai dan analisis akar penyebab yang perlu dilakukan untuk menemukan alasan kehilangan data tersebut.

Data terkroup dan masalah integritas data

Format dan isi data dalam sistem lawas dan sistem target yang berbeda dalam perbandingan karena proses migrasi kemudian disebut data yang rusak. Karena migrasi data, anomali atau data berlebihan atau duplikat atau adanya data yang tidak bermakna terkait dengan masalah integritas data. Data korup dan disintegritas data mempengaruhi efisiensi bisnis dan operasi dan sama sekali mengalahkan tujuan migrasi.

Solusi: Validasi Data

Memvalidasi setiap data antara sistem lawas dan target adalah metodologi terbaik untuk menghindari kerusakan data. Berikut merupakan metodologi validasi data yang banyak digunakan, antara lain:

  • Contoh Validasi Data
  • Subset Validasi data
  • Validasi data menyeluruh.
Contoh validasi data

Ini melibatkan seleksi acak dari sistem lawas dan yang akan dibandingkan dengan sistem target. Sampling bukanlah sistem bukti cacat karena memilih catatan acak kecil. Pengambilan sampel dapat mengambil lebih banyak cakupan data dibanding dengan sampel acak.

Subset validasi data

Alih-alih memilih catatan sampel acak untuk verifikasi antara sistem lawas dan target, di sini kita memilih subset dari catatan berdasarkan nomor baris seperti seribu catatan pertama atau sepuluh ribu sampai lima puluh ribu catatan. Keuntungannya hanya memilih lebih banyak catatan dan mengharapkan lebih banyak cakupan data berdasarkan probabilitas yang lebih tinggi.

Validasi data menyeluruh

Ini adalah metode validasi ideal yang harus kita perjuangkan dalam pengujian migrasi. Ini membandingkan setiap record secara dua arah, membandingkan setiap record dalam sistem warisan terhadap sistem target dan sistem target terhadap sistem warisan. Minus / exception query digunakan untuk membandingkan data antar sistem. Ketika dua vendor database yang berbeda terlibat, perbandingan semacam itu tidak mungkin dilakukan, untuk mengatasi kebutuhan contoh untuk dibuat di salah satu database baik di sistem lawas maupun di sistem target.

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam validasi data:

  • Stabilitas proyek migrasi data
  • Cakupan data
  • Waktu eksekusi
  • Efisiensi Query / Script

Risiko Semantik

Selama proses migrasi, itu terjadi kadang-kadang makna kolom warisan dan kolom target memiliki arti yang sama namun unit pengukurannya berbeda dan artinya data benar-benar berubah. Yang penting diperhatikan dalam skenario ini adalah data tidak dilepaskan atau rusak, migrasi berhasil namun tidak berguna dalam hal objektif.

Misalnya, jika kita memiliki field yang disebut jumlah di database sumber dan ia mulai bermigrasi ke basis jumlah dalam aplikasi target. Dalam aplikasi sumber, bidang ini berkaitan dengan kurs Rupia namun pada sisi target, field dengan jumlah dasar berisikan dolar AS. Jika 10.000 IDR (Rupiah) mulai bermigrasi ke 10.000 dollar AS, itu adalah sebuah kesalahan karena 10.000 IDR tidak dapat dianggap sebagai 10.000 dollar AS.

Contoh lainnya adalah titik desimal hingga 2 namun aplikasi target tidak mempertimbangkan kendala tersebut. Terkadang kesepakatan bidang aplikasi sumber dengan titik desimal hingga 2 namun aplikasi target tidak mempertimbangkan kendala tersebut.

Solusi:

Pengguna real time dan pakar harus terlibat dalam studi kelayakan. Masalah semantik semacam itu harus di deteksi lebih awal dalam siklus hidup proyek migrasi data.

Lingkup uji harus mencakup kasus uji untuk mengidentifikasi inkonsistensi dan ketidaksesuaian antara data yang dimigrasikan dan parameterisasi aplikasi target. Penguji membandingkan secara manual objek yang ada di sumber dan aplikasi target dengan melihat layar utama aplikasi.

Risiko interferensi

Jenis risiko ini muncul ketika semua pemangku kepentingan menggunakan aplikasi sumber secara bersamaan selama masa transisi. Misalnya, jika satu pemangku kepentingan mengakses tabel tertentu dan dia mengunci tabel tersebu, lantas jika ada orang lain yang mencoba mengakses tabel itu, maka akan tertolak. Dalam situasi seperti itu, risiko gangguan muncul.

Solusi:

Ini harus dikelola di tingkat organisasi dan harus dibahas skenario tersebut pada saat perencanaan proyek migrasi data. Salah satu caranya adalah merencanakan beberapa sekenario tiruan yang melibatkan semua pemangku kepentingan dan juga merencanakan langkah untuk lingkungan pra-produksi yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Kesimpulan

Migrasi data adalah bagian rutin dari operasi TI di lingkungan bisnis saat ini. Meski begitu, seringkali penyebab gangguan utama sebagai akibat dari kualitas data atau masalah kinerja aplikasi dan dapat sangat mempengaruhi anggaran. Untuk mencegah masalah ini, organisasi memerlukan metodologi yang konsisten dan andal yang memungkinkan mereka merencanakan, merancang, memigrasikan dan memvalidasi migrasi data tersebut.

Manfaat Cloud Backup Untuk Keberlangsungan Operasional

Manfaat Cloud Backup Untuk Keberlangsungan Operasional


Dalam beberapa tahun ini, kita semakin akrab dengan istilah DOWNTIME. Downtime merupakan inefisiensi operasional yang dapat berdampak pada keuangan perusahaan dan kepercayaan publik. Jika dulu hanya perusahaan besar saja yang mampu menghadirkan sarana pemulihan bencana, sekarang manfaat cloud backup dapat di nikmati oleh perusahaan kecil dan menengah.

Kondisi Operasional Bisnis Pada Era Digital

Transformasi digital sudah menjadi perlombaan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perusahaan berlomba untuk menghadirkan inovasi agar bisa mendapatkan keunggulan kompetitif dari para pesaing bisnis mereka. Perusahaan startup juga turut meramaikan kompetisi ini dan mendorong menjadi semakin agresif.

Perusahaan kecil akan berkisar pada jumlah 50 karyawan, sedangkan perusahaan menengah akan berkisar pada jumlah 500 karyawan. Infrastruktur IT merupakan tulang punggung operasional pada jaman sekarang ini. Disamping itu, baik pemilik maupun karyawan banyak yang membawa perangkat mereka sendiri untuk bekerja di kantor. Era BYOD (Bring Your Own Device) sekarang ini sangat dibutuhkan, akan tetapi risikonya juga cukup tinggi.

Ancaman cyber juga meningkat seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Perang cyber antar negara juga sudah mulai terlihat, seperti pada tuduhan Presiden AS Donald Trump pada Rusia. Kondisi kedepannya akan lebih menantang lagi, dimana transaksi keuangan akan semakin bersifat cash-less dan bank-less.

Ancaman cyber dalam beberapa tahun terakhir lebih berdampak pada penghentian operasional suatu bisnis. Baik untuk sektor retail, e-commerce, financial, dan manufaktur, serangan cyber terbukti telah menyebabkan downtime dan mengakibatkan kerugian yang cukup banyak.

Salah satu faktor terpenting dalam menghadapi tantangan tersebut, perusahaan harus melindungi data penting perusahaan. Ketika terjadi serangan cyber, perusahaan dapat mengalihkan operasional ke data center cadangan (DRaaS) dan memulihkan data jika serangan tersebut sudah berhasil di tangkal. Jika tidak, anda ada baiknya perhatikan dampak dari downtime terhadap biaya seperti pada info grafis dibawah ini.

manfaat cloud untuk menurunkan biaya downtime

Dari grafis tersebut diatas, sekarang anda dapat mengetahui bahwa rata-rata biaya downtime per menit adalah sekitar Rp. 93 juta. Tentunya biaya colocation DR pun tidak sampai sebesar itu, jika terjadi 2 jam saja downtime maka perusahaan mencadangkan kerugian tak terduga pada pos biaya sebesar Rp. 11 milyar. Biaya itu akan jauh lebih kecil jika menggunakan colocation DR ataupun Cloud DR (DRaaS).

Maka tidak heran, pada tahun 2017 ini, banyak perusahaan besar lebih ber investasi pada teknologi ketimbang pembelian perangkat fisik. Penggunaan cloud pada titik tertentu akan sangat bermanfaat bagi perusahaan UMKM dan perusahaan startup digital di Indonesia.

Manfaat Cloud Backup pada Era Transformasi Digital

Baik manfaat maupun tantangan pada era ekonomi digital sekarang ini, setiap perusahaan memerlukan pencadangan. Baik untuk pencadangan infrastruktur IT secara keseluruhan, atau hanya untuk file dan data penting saja. Kini perusahaan UMKM dapat menikmati fasilitas tersebut dengan biaya sesuai pemakaian. Fasilitas cloud backup tersebut bernama “Disaster Recovery as a Service” atau yang disingkat dengan DRaaS.

Berikut beberapa manfaat cloud backup atau DRaaS pada era transformasi digital sekarang ini:

  • Menjaga keberlangsungan operasional IT perusahaan

    Jika terjadi serangan cyber seperti DDoS dan Malware, perusahaan tidak perlu khawatir, cukup memutuskan jalur masuk dan mengembalikan data cadangan pada pada kondisi terbaik. Perusahaan juga dapat mencadangkan aplikasi pada situs pemulihan bencana tersebut (DRaaS), sehingga pelanggan tetap dapat mengakses layanan tanpa harus mengetahui bahwa sebenarnya sedang ada masalah. Dan dalam hal ini, perusahaan UMKM dapat terhindar dari biaya downtime.

  • Bayar sesuai kebutuhan

    Salah satu manfaat cloud backup adalah memiliki fleksibilitas dalam hal biaya. Anda cukup membayar sesuai kebutuhan, dan ini dapat berlaku dinamis sesuai skala kebutuhan anda. Tentunya ini akan sangat berbeda jika dengan menggunakan colocation DR secara fisik.

  • Hemat angaran pemulihan bencana

    Dalam menggunakan DRaaS, perusahaan anda tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk membeli perangkat server, jaringan, storage dan sebagainya. Semuanya itu sudah disediakan oleh penyedia jasa cloud backup atau DRaaS pada infrastruktur data center mereka. Ini dapat menghemat anggaran investasi perangkat IT dari ratusan juta hingga milyaran rupiah.

Jangan biarkan perusahaan anda menunggu hingga downtime terjadi. Downtime dapat terjadi kapan saja tanpa dapat diduga. Hanya sebuah mitigasi bencana yang dapat mempersingkat waktu downtime dari hitungan jam ke hitungan menit, dari hitungan hari ke hitungan jam, tergantung bandwidth koneksi anda ke internet.

Biaya downtime dapat berkisar antara Rp. 6.5 milyar hingga 13 milyar per hari. Tentunya dengan manfaat cloud backup seperti yang di paparkan diatas, anda dapat terhindar dari biaya downtime dan mengurangi investasi untuk keberlanjutan operasional usaha anda.

Era digital ini hanya ada 2, siapa yang mau mengikuti perubahan mereka akan tetap bertahan dan berpotensi menjadi pemimpin pasar. Siapa yang tidak mau mengikuti perubahan akan tertinggal dan bisnis terancam punah. Oleh karena itu, manfaat cloud backup akan sangat terasa jika anda sudah benar-benar memahami resiko yang dihadapi. Jangan tunggu hingga terjadi downtime, ingat lah bahwa tidak ada satu pihak pun yang dapat kebal dari downtime. Anda dapat memperkuat dan memperluas infrastruktur IT anda dengan menggunakan jasa cloud backup untuk menunjang operasional terhadap kondisi yang tidak dapat terduga-duga.

Efek Bumerang Bisnis Colocation Server v.s Layanan Cloud

Efek Bumerang Bisnis Colocation Server v.s Layanan Cloud

Perusahaan teknologi yang tergolong perusahaan besar menemukan bahwa komputasi awan tidak efektif biayanya seperti yang diharapkan. Dari perusahaan tersebut sebagian setidaknya telah memindahkan satu aplikasi kembali data center fisik (colocation server). Fenomena kembalinya pelanggan colocation server yang sempat berpindah ke cloud ini seperti efek bumerang.

Para penyedia layanan cloud di anjurkan unutuk bersiap diri menghadapi fenomena efek bumerang pada pasar colocation server. Hal ini karena  beberapa perusahaan besar yang sempat beralih ke cloud kini kembali memakai on-premise data center (data center fisik). Inilah yang dimaksud dari fenomena efek bumerang tersebut.

Fenomena Efek Bumerang pada Bisnis Colocation Server

Hampir dua dari tiga CIO (62%) dalam survei Pacific Crest Securities terbaru di tahun 2017 mengenai Cloud dan Infrastruktur Prioritas, banyak pengguna membawa kembali beban kerja mereka ke server fisik. Pada kompetisi pasar antara colocation server vs layanan cloud, banyak perusahaan besar menyarankan bahwa layanan cloud mungkin bukan jawaban untuk segalanya.

Responden survei kebanyakan berasal dari industri teknologi, jasa keuangan, manufaktur, sektor publik dan bisnis ritel dan 2/3 memiliki anggaran TI lebih dari US$ 50 juta atau sekitar Rp. 765 Milyar per tahun .

Banyak perusahaan terkejut ketika menerima tagihan bulanan mereka dari penyedia cloud publik. Tagihan itu menunjukkan berapa banyak mereka benar-benar menghabiskan biaya, kata Scott Lowe, seorang analis teknologi independen pada sebuah acara Data Center di USA.

Bursa Efek Nasdaq Tinggalkan Cloud dan Kembali ke On Premise Data Center

Nasdaq Inc di New York, misalnya, mereka mengakui bahwa komputasi awan sempat hits beberapa tahun yang lalu tapi mereka menemukan bahwa, dalam beberapa kasus, biaya layanan cloud lebih mahal ketimbang on-premise (infrastruktur data center fisik), katanya.

 

Bursa Amerika telah mulai memindahkan beberapa beban kerja kembali ke infrastruktur data center mereka. Perusahaan akan terus menggunakan kombinasi cloud publik dan private untuk menjalankan beban kerja yang diberikan berdasarkan biaya dan tuntutan aplikasi.

Efek bumerang biasanya terjadi pada perusahaan teknologi dan perusahaan yang lebih besar, menurut survei Pacific Crest.

Dinamika Bisnis Colocation Server di Era Cloud Computing

Cloud publik memang menarik bagi para perusahaan startup. Seperti perangkat keras, lisensi dan Microsoft Certified Engineer, hanya ber biaya sekitar puluhan ribu dolar pada hari pertama. Tetapi sebagian besar mereka memanfaatkan komputasi awan hanya untuk awal berdirinya perusahaan. Ketika perusahaan startup tersebut telah matang, maka mereka berpindah ke on-premise kata Hamilton, veteran teknologi 20-tahunan.

Salah satu atraksi awal komputasi awan adalah bahwa hal itu akan mengurangi biaya modal yang besar dan memungkinkan komputasi untuk dibeli sebagai potongan yang lebih kecil dari biaya operasional. Tapi akan selalu ada situasi di mana komputasi awan tidak akan menghemat uang dalam jangka panjang.

Konsep Hybrid Akan Mewarnai Bisnis Cloud dan Colocation Server

Kombinasi infrastruktur cloud dan on-premise akan membawa keseimbangan, dimana semakin banyak inovasi¬†terbaru dalam segala hal. Seperti pada¬†solusi pemulihan bencana (active-passive) yang semula menerapkan sistem ‘All You Can Eat” akan menjadi solusi disaster recovery ‘ala carte’. Disaster Recovery as a Service atau disingkat dengan DRaaS¬†termasuk solusi Hybrid pada infrastruktur teknologi informasi. Inovasi in berhasil mengawinkan infrastruktur data center fisik yang¬†minimal memiliki sertifikasi Tier III dari The Uptime Institute dan ISO27001 untuk keamanan dengan sebuah teknologi komputasi awan sebagai agen fail-over dan scaling.

Di tahun 2017 ini, Gartner, PwC, dan Frost & Sullivan memprediksi bahwa anggaran belanja TI akan lebih banyak pada teknologi ketimbang cloud ataupun perangkat fisik.

Beberapa Pilihan Cara Migrasi ke Cloud Berdasar Para Ahli

Beberapa Pilihan Cara Migrasi ke Cloud Berdasar Para Ahli

Meskipun sering terjadi, migrasi tidak harus terburu-buru. Sebuah strategi migrasi yang kurang matang dapat berakibat pada waktu yang mahal, kehilangan data dan hambatan lainnya pada saat anda berencana untuk melakukan modernisasi infrastruktur IT perusahaan anda. Berikut ini adalah beberapa cara migrasi ke cloud untuk data dan aplikasi anda, yang dapat dipilih sebagai strategi migrasi anda.

Pilih Cara Migrasi ke Cloud Yang Sesuai

Migrasi dapat terjadi di kedua arah, dari server fisik ke cloud dan sebaliknya, dari private cloud ke public cloud. Masing-masing skenario berbeda berdasarkan pada aplikasi Anda. Intinya, anda harus kenali dari mana harus dimulai dan kemana arah tujuannya.

Opsi 1: Migrasi Data Saja

beberapa pilihan cara migrasi ke cloud untuk data dan aplikasiIni biasanya pilihan yang tepat untuk Aplikasi Tier 1 (Interface/ERP) dan Tier 2 (Engine/Logical Process) . Jika Anda memilih untuk bermigrasi VM atau vApp, ini masih akan terus berubah. Jika aplikasi Tier 1 Anda tidak boleh terlalu banyak downtime, rekomendasi terbaik adalah membuat semacam replikasi. Replikasi cukup kompleks, perlu hal terperinci di dalamnya, tetapi kunci untuk memahami hal ini berguna untuk mengidentifikasi ukuran data, laju perubahan dan bandwidth antara sumber dan target.

Sebagai aturan umum, jika tingkat perubahan Anda lebih besar dari atau sama dengan bandwidth, migrasi Anda akan cenderung gagal. Itu karena tingkat perubahan pada memacu pada segala sesuatu yang ada di aplikasi. Hal ini dapat meningkatkan potensi masalah selama proses tersebut. Kecepatan bandwidth sangat dibutuhkan hingga proses migrasi selesai. Anda membutuhkan bandwidth yang cukup tinggi untuk menempuh proses peningkatan / perubahan tersebut.

Opsi 2: Replikasi Mesin

Ini yang terbaik untuk Aplikasi Tier 1 dan 2 yang memiliki toleransi downtime lebih tinggi dan ini akan melibatkan migrasi stack. Skenario ini akan lebih kurang dalam hal melakukan konfigurasi, akan lebih banyak kegiatan migrasi data. Opsi ini sangat ideal jika Anda pindah ke sebuah private cloud internal. Anda akan dapat mereplikasi seluruh stack, karena Anda memiliki banyak bandwidth untuk proses pemindahan. Sangat penting untuk mencatat portabilitas pada basis teknologi VMware. Ini karena VMware memungkinkan Anda untuk memaketkan seluruh VM / vApp dan seluruh stack, menjadi OVF. OVF tersebut, kemudian dapat diangkut ke mana saja jika sudah berada server fisik ter-virtualisasi.

Opsi 3: Migrasi P2V

Opsi migrasi ini biasanya untuk Aplikasi Tier 2 dan Tier 3 (Storage/DB) yang belum virtual. Konsep ini melibatkan pengambilan aplikasi fisik dan virtualizing. VMware memiliki converter VMware yang melakukan P2V, dan ini cukup mudah untuk migrasi dari fisik ke private cloud menggunakan P2V. Namun demikian, opsi sama sekali berbeda dari praktik terbaik, dan Anda harus melakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa anda memiliki update terbaru mengenai praktik terbaik dan saran dari para ahli. Pada pilihan tiga, tidak ada replikasi. Namun, aplikasi tersebut dapat dikirim ke penyedia layanan cloud publik untuk berjalan dalam cloud public setelah virtualisasi selesai dilakukan.

Option 4: Pemulihan Bencana

Sebuah jalan yang sering diambil beberapa perusahaan besar, biasanya sebagai skenario Disaster Recovery (DR). Proses ini akan menyiapkan sesuatu untuk dilakukan dengan dasar replikasi dari fisik ke satu mesin dan ke lainnya. Anda dapat memilih untuk mereplikasi seluruh stack dari titik A ke titik B, dan kemudian klik tombol failover.

Sekarang, katakanlah Anda telah mengidentifikasi pilihan terbaik untuk migrasi aplikasi Anda. Sebelum Anda benar-benar bisa lakukan, masih ada sedikit informasi untuk evaluasi.

Pahami Potensi Resiko Data Anda Untuk Proses Migrasi

Ketika memigrasikan aplikasi Tier 1 dari pusat data fisik ke private cloud atau publik, kita harus mempertimbangkan tingkat gravitasi data, dan data itu sendiri akan menjadi bagian terberat dalam proses migrasi.

rumus tingkat gravitasi data

Tidak ada cara mudah untuk merampingkan data, sehingga Anda perlu mengevaluasi tingkat volume data dalam aplikasi Anda sedang mempertimbangkan migrasi. Terutama jika Anda adalah perusahaan yang memiliki frekuensi transaksi yang tinggi, atau jika itu merupakan aplikasi transaksi yang tinggi, akan ada banyak data untuk di replikasi. Data dari aplikasi merupakan 99% dari gravitasi data dari aplikasi tersebut.

Aspek lain yang harus di evaluasi sebagai bagian dari rencana pra-migrasi Anda adalah untuk menentukan bagaimana hubungan VM atau VAPP terhadap aplikasi lainnya. Jika Anda memiliki banyak aplikasi yang erat digabungkan ke aplikasi yang ingin bermigrasi, cloud mungkin tidak dapat menjadi pilihan untuk aplikasi itu.

Identifikasi Bagaimana Cara Aplikasi Tersebut Terhubung

Apakah aplikasi Anda memiliki data yang perlu di akses aplikasi lain dengan cepat? Jika demikian, prinsip migrasi datasemua atau tidak” merupakan pilihan terbaik Anda. Jika Anda memiliki aplikasi yang erat digabungkan ke dua atau tiga sistem lainnya, Anda mungkin dapat memindahkan mereka semua ke cloud secara bersama-sama. Karena mereka masih erat digabungkan, Anda tidak akan mengalami latency yang akan terjadi jika aplikasi cloud-host Anda perlu untuk mengakses server fisik untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk dijalankan.

Identifikasi berapa banyak aplikasi yang terkait dengan aplikasi yang ingin dimigrasi. Setelah itu identifikasi aplikasi yang peka terhadap masalah latency. Seberapa bisa sensitif harus menjadi pertimbangan, sehingga anda dapat tentukan apakah akan anda migrasikan aplikasi tersebut atau tidak.

Untuk dapat memeriksa praktek terbaik cara migrasi ke cloud ini dari daftar Anda, anda harus benar-benar yakin dengan memahami segala keterkaitan aplikasi Anda. Sehingga Anda tidak akan terkejut setelah proses migrasi.

Setiap aplikasi, dan strategi migrasi, adalah unik, sehingga tidak ada instruksi rinci manual yang bekerja untuk semua orang. Demikian penjelasan beberapa pilihan cara migrasi ke cloud untuk aplikasi dan data anda dalam rangka meningkatkan infrastruktur IT anda. Semoga bermanfaat..

Memperluas Data Center dengan Infrastruktur Cloud

Memperluas Data Center dengan Infrastruktur Cloud

Memperluas Data Center dengan Infrastruktur CloudSebagai inti dari perubahan, cloud computing telah merambah ke infrastruktur data center yang dikenal dengan infrastruktur cloud data center. Data center sudah sejak lama menjadi tenaga utama pada dunia cloud dengan menyediakan bandwidth, konektivitas, dan tentunya segala sumberdaya untuk mewujudkan lingkungan IT yang dapat diandalkan secara terus menerus tanpa hambatan.

Pada awal era cloud computing, masih banyak terjadi kasus disconnect antara sumberdaya cloud dengan lingkungan IT internal di perusahaan. Untuk mengakses beban kerja atau sumber daya dari cloud para administrator harus mampu melalui rintangan-rintangan untuk menghubungkan lingkungan mereka dengan komponen eksternal. Diluar hosting data center internal terdapat beberapa pilihan seperti SaaS, PaaS, dan layanan IaaS yang membutuhkan konektivitas ke data center internal.

Sehingga tantangannya menjadi bertambah jelas bagi para administrator data center “bagaimana caranya menambah sumberdaya data center perusahaan dengan beberapa komponen di cloud”.

Meskipun ada beberapa cara untuk menjapai tujuan tersebut, teknologi Defined-Software, Virtualisasi, dan Advance Networking telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hal menghubungkan data center ke sistem cloud. Karena pada kenyataanya, sering seorang pengguna yang berada pada data center perusahaan membutuhkan untuk akses ke dunia luar atau ke aplikasi host eksternal, disinilah infrastruktur cloud data center dapat mengatasi tantangan tersebut.

Menambah Fleksibilitas Data Center untuk Terhubung ke Infrastruktur Cloud

Infrastruktur Cloud untuk Hybrid Data CenterSalah satu hal terbesar mengenai infrastruktur cloud adalah fleksibilitas untuk para pengguna dan para administrator. Disinilah otentikasi identitas secara elektronik dapat membantu. Untuk dapat menerapkan hal tersebut dan bagaimana untuk dapat berinteraksi antara perusahaan dengan data center, dapat dilakukan 3 macam pendekatan sebagai berikut:

Menghubungkan Pengguna

Pengguna merupakan salah satu bagian penting dari lingkungan apapun, dengan mempertimbangkan pengguna akhit dapat ditemukan perbedaan antara penyebaran yang berhasil dengan yang tidak atau harus kembali melihat ke tujuan rencana awal. Banyak sekali organisasi yang menyebarkan aplikasi atau sumber daya pada cloud hosting. Dalam banyak situasi, pengguna harus kembali mengotentikasi dari lingkungan internal mereka ke sumber data cloud.

Disnilah sistem identifikasi federasi (single sign on identity) dapat membantu para pengguna seperti siapa yang dapat mengakses data center lokal akan menjadi jauh lebih mudah dan secara transparan dalam keseharian. Dengan menerbitkan sebuah portal khusus seperti cloud gateway, para pengguna akan melihat pengatusan mereka serta aplikasi yang dapat mencakup Word, Excel, Outlook dan sumber daya lainnya secara lokal. Namun di portal yang sama, para administrator dapat menyajikan aplikasi eksternal seperti Salesforce, Bornevia, Linkgein, Ceridian dan lain-lain yang disisi pengguna akan terlihat seakan aplikasi tersebut diinstal secara lokal. Selain itu, mereka hanya perlu mengotentikasi sekali saja dengan kredensial Acitve Directory mereka.

Menghubungkan Aplikasi

Salah satu tujuan utama dalam menciptakan mekanisme identitas federasi yang baik untuk pengguna akhir adalah untuk membuat hal aktifitas sign on tersebut menjadi lebih transparan. Salah satu tujuan lainnya adalah untuk menyederhanakan administrasi.

Aplikasi yang di hosting diluar data center internal mungkin harus terhubung dengan melihat bagaimana hal tersebut dapat dilakukan. Administrator menyapkan server internet atau layanan yang akan memberikan antarmuka dengan aplikasi eksternal. Dari sana, banyak solusi identitas federasi akan benar-benar memiliki konektor pra bangun untuk banyak antar muka aplikasi cloud. Mereka akan mengetahui pengarahan halaman dan mampu mengidentifikasi mdetode otentikasi dan bagaimana untuk mengikat mereka kembali ke lingkungan internal.

Setelah itu, barulah administrator dapat mengatur : metrik reset password, bagaimana akses pengguna aplikasi eksternal, dan menciptakan sebuah data center lokal yang mampu memperluas ke infrastruktur cloud. Fleksibilitas menggunakan teknologi identitas federasi untuk mengubungkan data center ke infrastruktur cloud tidak hanya mencakup persetujuan awal terhadap daftar aplikasi. Untuk aplikasi kustom, administrator dapat membuat custom HTTP atau konektor SAML (Security Assertion Markup Language, untuk pertukaran otentikasi dan otorisasi) terhadap sumber daya yang dibutuhkan. Jenis penyebaran ini membentuk fleksibilitas khusus untuk aplikasi yang pernah dianggap sulit sebelumnya dalam hal penghubungan data center internal ke infrastruktur cloud diluar.

Menghubungkan Data Center

Sebagai salah satu bagian akhir, namun ini sangat penting, dalam proses koneksi yang menghubungkan data center berjalan sedikit diluar identitas federasi dan dalam hubungannya dengan teknologi “software-defined” untuk menghubungkan data center dengan infrastruktur cloud dapat menjadi lebih mudah.

Dari perspektif otentikasi, federasi identitas bertindak sebagai mesin untuk memudahkan akses pengguna baik untuk internal, data center hosted, serta aplikasi eksternal. Sekarang para administrator dapat secara logis menghubungkan data center internal mereka dengan lingkungan berbasi cloud untuk memperbesar dan memperluas infrastruktur IT mereka. Pada titik ini, tidak hanya lingkungan internal terhubung ke sumber daya cloud yang menhadap ke data center, namun otentikasi pengguna dapat lebih mulus dan mudah dilakukan di kedua lingkungan tersebut. Sebuah link yang aman dapat dibuat pada data center yang terdapat aplikasi khusus (critical application).

Lebih dari itu, solusi identitas tersebut dapat membantu menangani otentikasi pengguna untuk mengakses sumber daya pada infrastruktur cloud, sehingga pengguna selain dapat mengakses infrastruktur cloud data center juga masih dapat mengakses sumber daya di seluruh platform yang ada.

Memperluas data center ke infrastuktur cloud tidak harus rumit sebetulnya, bahkan keamanan lanjutan serta metodelogi konektivitas membuat proses jauh lebih aman dari sebelumnya. Teknologi Software-Defined Data Center dan Cloud API (program antar muka cloud) terus membuat data center modern menjadi lebih lincah dam mampu memperbesar kapasitas sesuai kebutuhan organisasi. Banyak perusahaan yang memanfaatkan sumber daya berbasis cloud dan memerlukan cara untuk menghubungkan kedalam berbagai kenis lingkungn sistem. Disinilah penggunan identitas federasi menjadi solusi yang dapat membantu menghubungkan data center lokal ke sistem cloud.

Pin It on Pinterest

Share This